Advertisements

Archive

Archive for December, 2010

PROSEDUR AKUISISI DAN QC DATA SEISMIK

PROSEDUR AKUISIS DAN QC DATA SEISMIK


Prosedur Operasi Penyelidikan Seismik

Secara umum kegiatan dalam operasi penyelidikan seismik berdasarkan atas pembagian tugasnya adalah seperti yang telah dijelaskan di atas. Sedangkan untuk tata cara dalam operasi penyelidikan seismik adalah sebagai beikut:

  1. Pelaksanaan tes parameter akuisisi agar survei optimal. Parameter akuisis yang diperoleh berupa interval shot point, Interval receiver, interval shot line, interval Receiver line, Kedalaman lubang SP, banyaknya bahan peledak yang dipakai, gain yang digunakan, fold coverage, channel yang aktif dalam satu penembakan, jumlah geophone per grup, jumlah tembakan per salvo.
  2. Pembuatan desin survei koordinat teoritik dari titik-titk tembak dan receiver dengan mengunakan software MESA.
  3. Pengukuran dan pemberiaan tanda terhadap koordinat titk tembak dan reciver oleh tim topografi dan sambil melakukan pembukaan akses jalan, serta memindahkan (offset dan kompensasi) titik tembak jika ditemukan penghambat dalam survei.
  4. Pengeboran lubang titik tembak dengan kedalaman tertentu sesuai dengan hasil parameter tes yang dilakukan.
  5. Pengisian lubang dengan bahan peledak sesuai dengan aturan.
  6. Penutupan kembali lubang yang telah diisi dengan campuran rumput, tanah, jerami, daun sampai lubang bener-benar tertutup rapat.
  7. Pengukuran/pengecekan terhadap koordinat aktual SP yang telah diisi.
  8. Selanjutnya dilakukan kontrol kualitas lubang shot point untuk mengurangi resiko terjadinya misfire dan weakshot.
  9. Pembentangan kabel dan pemasangan geophone untuk kondisi permukaan yang kering dan hydrophone untuk kondiisi berair.
  10. Perekaman dengan melakukan penembakan shot point dan mengaktifkan reciver dengan jumlah channel yang aktif disesuaikan dengan hasil tes parameter yang dilakuakan. Sebelum penembakan dilakuakan, ada petugas yang bertugas untuk menghentian bising. Read more…
Advertisements

PENGERTIAN STRATIGRAFI

PENGERTIAN STRATIGRAFI


Stratigrafi dalam arti luas adalah ilmu yang membahas aturan, hubungan dan kejadian (genesa) macam-macam batuan di alam dengan ruang dan waktu, sedangkan dalam arti sempit ialah ilmu pemerian batuan (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).

Pengolongan stratigrafi ialah pengelompokan bersistem batuan menurut berbagai cara, untuk mempermudah pemerian aturan dan hubungan batuan yang satu terhadap lainnya. Kelompok bersistem tersebut di atas dikenal sebagai Satuan Stratigrafi (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996).

Batas satuan stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas penyebaran ciri satuan tersebut sebagaimana didefinisikan Batas satuan Stratigrafi jenis tertentu tidak harus berhimpit dengan batas satuan satuan stratigrafi jenis lain, bahkan dapat memotong satu sama lain (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996). Read more…

KORELASI UNIT STRATIGRAFI

KORELASI UNIT STRATIGRAFI

 

Korelasi adalah sebuah bagian fundamental dari stratigrafi, dan lebih lagi merupakan usaha dari stratigraphers dalam membuat unit stratigrafi yang formal yang mengarah pada penemuan praktis dan metode yang dapat dipercaya untuk korelasi unit ini dari suatu area dengan lainnya (Boggs, 1987).

Dalam korelasi stratigrafi, pemahaman kita tentang korelasi sangat dipengaruhi oleh prinsip dasar, konsep baru dan peralatan analisa (analytical tools) sehingga bisa dihasilkan metode baru dalam korelasi.

Definisi dan Prinsip Korelasi

Korelasi ialah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996).

Menurut North American Stratigrafi Code (1983) ada tiga macam prinsip dari korelasi:

1.    Lithokorelasi, yang menghubungkan unit yang sama lithologi dan posisi stratigrafinya.

2.    Biokorelasi, yang secara cepat menyamakan fosil dan posisi biostratigrafinya.

3.    Kronokorelasi, yang secara cepat menyesuaikan umur dan posisi kronostratigrafi. Read more…

SESAR (FAULT)

SESAR (FAULT)


Definisi-Definisi didalam Sesar

Sesar adalah rekahan atau zona rekahan pada batuan yang memperlihatkan peregeseran. Pergeseran pada sesar bisa terjadi sepanjang garis lurus (translasi) atau terputar (rotasi). Sesar merupakan struktur bidang dimana kedudukannya dinyatakan dalam jurus dan kemiringan.

Separation (pergeseran relatif semu) adalah jarak yang terpisah oleh sesar dan diukur pada bidang sesar. Komponen dari sparation dapat diukur pada arah tertentu, umumnya sejajar jurus atau arah kemiringan bidang sesar.

Slip (pergeseran relatif sebenarnya) adalah pergeseran relatif sebenarnya pada sesar, diukur dari blok satu keblok yang lain pada bidang sesar dan merupakan pergeseran titik-titik yang sebelumnya berimpit. Total pergeseran disebut juga ”Net slip”.

Throw (loncatan vertikal) adalah jarak yang diukur pada bidang vertikal dari slip/sparation.

Heave (loncatan Horizontal) adalah jarak yang diukur pada bidang horizontal.

Footwall adalah blok tubuh batuan yang terletak dibawah bidang sesar.

Hangingwall adalah blok tubuh batuan yang terletak di atas bidang sesar.

 

Klasifikasi Sesar

Sesar dapat diklasifikasikan dengan pendekatan geometri yang berbeda. Beberapa klasifikasi diantaranya adalah:

–     berdasarkan hubungan dengan struktur lain (sesar bidang perlapisan, sesar longitudinal, sesar transversal).

–     berdasarkan pola kumpulan seasar (sesar radial, sesar pralel, sesar en echelon). Read more…

Klasifikasi Batuan Karbonat Berdasarkan Tekstur Pengendapan Menurut Dunham (1962) dan Embry & Klovan (1971)

Klasifikasi Batuan Karbonat Berdasarkan  Tekstur Pengendapan Menurut Dunham (1962) dan Embry & Klovan (1971)


Klasifikasi Dunham (1962)Klasifikasi ini didasarkan pada tekstur deposisi dari batugamping, karena menurut Dunham dalam sayatan tipis, tekstur deposisional merupakan aspek yang tetap. Kriteria dasar dari tekstur deposisi yang diambil Dunham (1962) berbeda dengan Folk (1959).

Kriteria Dunham lebih condong pada fabrik batuan, misal mud supported atau grain supported bila ibandingkan dengan komposisi batuan. Variasi kelas-kelas dalam klasifikasi didasarkan pada perbandingan kandungan lumpur. Dari perbandingan lumpur tersebut dijumpai 5 klasifikasi Dunham (1962). Nama nama tersebut dapat dikombinasikan dengan jenis butiran dan mineraloginya. Batugamping dengan kandungan beberapa butir (<10%) di dalam matriks lumpur karbonat disebut mudstone dan bila mudstone tersebut mengandung butiran yang tidak saling bersinggungan disebut wackestone. Lain halnya apabila antar butirannya saling bersinggungan disebut packstone / grainstone.

Packstone mempunyai tekstur grain supported dan punya matriks mud. Dunham punya istilah Boundstone untuk batugamping dengan fabrik yang mengindikasikan asal-usul komponenkomponennya yang direkatkan bersama selama proses deposisi. Read more…

PETROLOGI DAN FAKTOR LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUAN KARBONAT

PETROLOGI DAN FAKTOR LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUAN KARBONAT

Batuan karbonat adalah batuan sedimen yang mempunyai komposisi yang dominan (lebih dari 50%) terdiri dari garam-garam karbonat, yang dalam prakteknya secara umum meliputi Batugamping dan Dolomit. Proses Pembentukannya dapat terjadi secara insitu, yang berasal dari larutan yang mengalami proses kimiawi maupun biokimia dimana pada proses tersebut, organism turut berperan, dan dapat pula terjadi butiran rombakan yang telah mengalami transportasi secara mekanik dan kemudian diendapkan pada tempat lain, dan pembentukannya dapat pula terjadi akibat proses diagenesa dari batuan karbonat yang lain (sebagai contoh yang sangat umum adalah proses dolomitisasi, dimana kalsit berubah menjadi dolomite). Seluruh proses pembentukan batuan karbonat tersebut terjadi pada lingkungan laut, sehingga praktis bebas dari detritus asal darat. Read more…

GEOLISTRIK

GEOLISTRIK


Metode Geolistrik

Penggunaan geolistrik pertama kali dilakukan oleh Conrad Schlumberger pada tahun 1912. Geolistrik merupakan salah satu metoda geofisika untuk mengetahui perubahan tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan cara mengalirkan arus listrik DC (‘Direct Current’) yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah. Injeksi arus listrik ini menggunakan 2 buah ‘Elektroda Arus’ A dan B yang ditancapkan ke dalam tanah dengan jarak tertentu. Semakin panjang jarak elektroda AB akan menyebabkan aliran arus listrik bisa menembus lapisan batuan lebih dalam.

Dengan adanya aliran arus listrik tersebut maka akan menimbulkan tegangan listrik di dalam tanah. Tegangan listrik yang terjadi di permukaan tanah diukur dengan  penggunakan multimeter yang terhubung melalui 2 buah ‘Elektroda Tegangan’ M dan N yang jaraknya lebih pendek dari pada jarak elektroda AB. Bila posisi jarak elektroda AB diubah menjadi lebih besar maka tegangan listrik yang terjadi pada elektroda MN ikut berubah sesuai dengan informasi jenis batuan yang ikut terinjeksi arus listrik pada kedalaman yang lebih besar.

Dengan asumsi bahwa kedalaman lapisan batuan yang bisa ditembus oleh arus listrik ini sama dengan separuh dari jarak AB yang biasa disebut AB/2 (bila digunakan arus listrik DC murni), maka diperkirakan pengaruh dari injeksi aliran arus listrik ini berbentuk setengah bola dengan jari-jari AB/2. Read more…