Advertisements
Home > Basic Geology, Sedimentology and Stratigraphy > APLIKASI SEKUEN STRATIGRAFI UNTUK DATA WELLLOG

APLIKASI SEKUEN STRATIGRAFI UNTUK DATA WELLLOG

APLIKASI SEKUEN STRATIGRAFI UNTUK DATA WELLLOG

Sebelum masuk ke tema ini hendaknya dipahami mengenai sekuen stratigrafi dahulu. Sebagai referensi bisa dilihat di halaman https://ptbudie.wordpress.com/2010/12/17/sekuen-stratigrafi/.

System tract secara genesa diasosiasikan dengan unit stratigrafi yang mengendap selama fase tertentu oleh siklus muka laut relatif (Posamentier, et al, 1988). Unit itu menjelaskan kembali rekaman batuan berupa tiga dimensi pembentuk fasies. Ketiga dimensi itu berupa tipe dari permukaan batas, posisi dalam sebuah sekuen, dan pola tumpukan parasekuen (Van Wagoner et al., 1988).

Menurut Van Wagoner et al.(1987), system tract yang membentuk sebuah single depositional sequence adalah

  1. Lowstand System Tract (LST)
  2. Transgressive System Tract (TST)
  3. Highstand System Tract (HST)
  4. Shelf Margin System Tract (SMFT)

Berikut di bawah adalah diagram sequen stratigrafi yang normal tanpa ada ganguan struktur sekunder yang memberikan gambaran hubungan antara systems tract serta batas-batas yang memisahkan antar sytems tract tersebut.

Diagram Sikuen Stratigrafi (Tanpa Terganggu Oleh Adanya Struktur Sekunder) (Vail et al, 1987)

Log yang biasanya digunakan dalam analisis stratigrafi ini adalah log gamma ray (GR) dan Log Spontaneous Potentian (SP) yang merupakan log yang menceriminkan ukuran butir dari sedimen. Dalam pengapalikasian sekuen stratigrafi perlu diketahui marker-marker dalam sekuen stratigrafi yaitu seperti

  1. Batas sekuen atau sequence boundary (SB); SB-1 dan SB-2
  2. Transgressive Surface
  3. Maximum Flooding Surface

Setelah diketahui marker-marker tersebut kemudian dapat dilakukan kronokorelasi untuk setiap system tract-nya. prinsip kronokorelasi adalah mengkorelasikan kejadian-kejadian geologi yang terekam pada batuan. Kejadian geologi bisa terjadi secara lokal, regional, dan global, dalam jangka waktu  menit hingga ratusan juta tahun, sehingga rekaman kejadian ini digolongkan dalam beberapa orde. Pembagian orde-orde tersebut dapat dibaca di halaman sekuen stratigrafi sesuai link di atas. Setelah kerangka kronologi geologi diketahui kemudian dilakukan korelasi yang lebih detil biasanya adalah mengunakan prinsip litokorelasi seperti sand to sand correlation dan kemudian dapat dibuat peta isopach dan paleogeografinya.

Berikut adalah aplikasi sekuen stratigrafi dalam data log:

HIGHSTAND SYSTEMS TRACT

HIGHSTAND SYSTEMS TRACT (EXXON)

TRANSGRESSIVE SYSTEMS TRACT

LST-PROGRADING WEDGE

 

 

LST-SLOPE FAN COMPLEX

 

 

LST-BASIN FLOOR FAN

posted by: pt_budie@yahoo.co.id

Advertisements
  1. 13 April 2011 at 12:50 am

    wahhhh gitu mas dr kemaren post yg ini… hehehe 😀

    • Prihatin Tri Setyobudi
      13 April 2011 at 12:54 am

      hehehe… ga tau og kalo da yang butuh (mencoba berkelak) selamat bersenang-senang dengan LTAF sampai GUMAI…

  2. Ryan Ernawanto
    8 May 2011 at 2:43 pm

    Mas, ngomongin delta dunk…

    • Prihatin Tri Setyobudi
      10 May 2011 at 10:48 am

      yuk..mari… insyaALlah kalo da kesempatan studi tentang delta insyaAllah diposting ntar… masalahnya sekarang belum pernah…

  3. Rizqi Rachmat
    8 June 2011 at 8:36 am

    Mas, tau ga cara memberikan marker wireline log pada karbonat, saya bingung untuk membedakan atas dan bawah pada suatu formasi. Formasi yang saya sedang saya teliti ada pada Formasi Batu Raja di Cekungan Sunda.

    • Prihatin Tri Setyobudi
      16 June 2011 at 7:00 pm

      Jelas karakter log di batuan karbonat memiliki densitasanya besar dan PEF-nya relatif lebih besar daripada batupasir (sekitar lebih dari 5 untuk batugamping, dan 3 untuk dolomit) dan tentunya soniknya cepat atau nilainya kecil.. namun jikalau masih belum kelihatan, kembali ingat bahwa dalam melakukan evaluasi formasi biasanya dipakai wireline log dan mud log. Oleh sebab itu mud log hasil kerjaan geologist perlu dilihat juga, top dan bottom formasi jelas disitu, walau biasanya terjadi pergeseran naik atau turun tapi tetap dalam batas kewajaran. jikalau masih susah, liat juga morning geological report-nya. Namun kita harus juga faham lingkungan pengendapan, fasies dan jenis karbonat pada daerah telitian. apalagi di baturaja. bisa tumbuh setempat2 sebagai buildup reef, atau malah pada plat form.. liat sejarah geologinya lapangan tsb..

  4. 5 December 2011 at 11:19 am

    Mas,

    saya yang bernama Nuraini dan kasih kuliah ini ke Mas dan kawan-kawan. Saya terkejut saat Mas menulis nama saya sebagai referensi kutipan (tulisan kecil di bawah gambar). Mohon di RALAT ya: yang membuat ini adalah team EXXOn, cuma tahunnnya saya lupa. Jadi mohon agar nama saya dihilangkan, ini tidak etis karena dianggap saya yang mengaku-aku mengerjakan hal ini padahal ini adalah kutipan. Tolong agar nama saya dihapus.

    terima kasih atas kerjasamanya.
    Siti Nur’aini
    siti.nuraini06@gmail.com

    • Prihatin Tri Setyobudi
      8 December 2011 at 8:10 pm

      Makasih Ibu Siti Nur’aini atas sharing ilmunya kemarin dan terimakasih atas perhatian terhadap blog saya..

      Baik bu akan saya perbaiki segera…

      Sebagai Junior kami akan selalu menunggu ilmu2 lainnya dari Ibu dan senior2 lainnya..

      Terimakasih,

      Salam Hormat
      Prihatin Tri Setyobudi

  5. Ida Nuryani
    24 April 2012 at 1:10 pm

    saya Ida Nuryani, dan masih kuliah di jurusan geologi sebuah PTS di jigja. Kemarin dpt tugas bikin resume kuliah sikuen stratifrafi. Eh waktu ketemu istilah Batas Sikuen sy definisikan begini (Suatu bidang yang membatasi suatu sekuen (runtunan) pengendapan, yaitu suatu permukaan perlapisan batuan yang memisahkan lapisan batuan muda dengan
    rumpang/hiatus yang besar), lha kontan pak dosennya ngamuk, Mk rolong bang kasih tahu pengertiannya yg betul. Matur nuwun..

  6. ququr
    23 January 2013 at 2:41 pm

    saya bingung interpretasi itu mulainya dari mana ya? sedangkan post stack juga menggunakan atribut seismik. jadi pembeda antara prosesing dan interpretasi di mana . tlg penjelasannya ya mas. atur nuwun.

    • Prihatin Tri Setyobudi
      23 January 2013 at 10:15 pm

      Bisanya sih setelah stack dan atribut… tapi kadang karena pertimbangan tertentu juga dilakukan intrrpretasi hasil pengolahan lapangan..

      • zul hayuddin hasibuan
        26 March 2013 at 11:54 pm

        mas,,mau tanya ne,,hubungan mineral lempung dengan indikasi geotermal.
        m’f mas msih bljar dasar ne. terima kasih mas.

      • Prihatin Tri Setyobudi
        16 April 2013 at 9:58 pm

        hubunganya adalah beberapa mineral lempung terbentuk atau terubah atau teralterasi oleh proses kimiawi dari fluida panasbumi dan temperature panas bumi.

  7. denis
    24 November 2013 at 5:14 pm

    mas ada ebook nya serra ga?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: