Advertisements
Home > Energy and Policy > ENERGI MIX INDONESIA

ENERGI MIX INDONESIA

ENERGI MIX INDONESIA

(Sebuah Catatan Kuliah “Ekonomi Migas” oleh HL. Ong -2014)

A. Energy Mix Indonesia Berdasarkan DEN (2014) dan Berdasarkan Peraturan Presiden (2006)

Negara memerlukan data cadangan untuk energy planning, untuk energy security, dan untuk dijadikan salah satu masukan dalam pengambilan kebijakan/policy atau UU. Mengetahui cadangan jenis apa, dimana, dan besarnya, akan dijadikan salah satu dasar pembuatan UUMigas.

Contoh konkrit dimana cadangan memegang peranan penting dalam pengambil kebijaksanaan (UU) adalah keputusan Dewan Energi Nasional baru-baru ini, 2014. Pemerintah beranggapan bahwa 40% cadangan eneri geothermal di dunia ada di Indonesia. Karenanya DEN mengeluarkan semacam fatwa bahwa pemakaian Energi Baru dan Terbarukan yang komponen utamanya adalah Geothermal Energi yang sekarang 6% (seharusnya 3%), perlu ditingakatkan tiga sampai empat kali lipat pada tahun 2025.

 

Gambar 1. Energy Mix Indonesia Berdasarkan DEN (2014)

Gambar 1. Energy Mix Indonesia Berdasarkan DEN (2014) dalam (HL. Ong, 2013)

 

B. Pembangkit Listrik dari Batubara

Indonesia termasuk kedalam sepuluh besar negara pengkonsumsi batubara dan nomor 2 pengekspor Batubara (Nomor satu untuk steaming coal).

Gambar 2. Peringkat Indonesia dalam Konsumsi dan Eksport Batubara

Gambar 2. Peringkat Indonesia dalam Konsumsi dan Eksport Batubara (HL Ong, 2013)

 

Isu yang sangat berkaitan dengan pengunaan batubara untuk pembangkit listrik adalah isue lingkungan. Indonesia termasuk golongan green satu kelas dengan USA dalam pemakaian batubara.

 

Gambar 3. Indonesia Termasuk Golongan Green dalam Pemakaian Batubara

Gambar 3. Indonesia Termasuk Golongan Green dalam Pemakaian Batubara (HL Ong, 2013)

 

Slides dari ESDM menunjukan bahwa Low Cal. Coal (lebih kecil dari 5100 Kcal) cuma 20.2% sedangkan Medium Cal. Coal (5100 – 6100 Kcal) 66.4%Bagaimana hal ini mungkin bahwa Low Cal Coal, berarti termasuk lignite, jauh lebih sedikit dari Medium Cal. Coal? Karena hal tsb. Direktorat Bara mengeluarkan insruksi untuk menaikkan Low Cal. Coal sebelum ekspor.

Gambar 4. Pemakaian lignit merajalela di Dunia

Gambar 4. Pemakaian lignit merajalela di Dunia (HL Ong, 2013)

 

C. Pembangkit Listrik dari Gas

Gambar 5. Cadangan gas Indonesia

Gambar 5. Cadangan gas Indonesia

 

Dalam table tsb. ada daftar cadagan gas Indonesia terbukti (proven) 103,35TSCF dan cadangan Potensial 47,35 TSCF.  Pertanyaan bagaimana bisanya cadangan potensial lebih kecil dari “proven” reserve?  Ini tidak masuk akal. (Selain itu kita mengetahui bahwa “potensial reserve” adalah istilah yang tidak pernah dipakai dalam definisi cadangan oleh SPE, WPC, AAPG, maupun SPEE).

Kesalahan sering terjadi dengan data dari Pemerintah. Sedangkan diluar Negeri kalau ada cap atau logo dari Pemerintah, data tidak diragukan dan dianggap betul.

ESDM dalam website mencantumkan: “Indonesia is developing unconventional shale gas potency is predicted around 574 TSCF. It is bigger than CBM 453,3 TSCF and gas 334,5 TCF”. Data cadangan untuk associated gas tidak bisa dicampur dengan data potential untuk CBM dan shale gas yang belum ada produksinya.

Dalam mempromosi CBM, ESDM mencantumkan cadangan associated gas alam (Proven) bersamaan dalam satu peta dengan resources dari CBM yang diperinci. Data demikian memelesetkan investor.

 

D. Pembangkit Listrik dari Geothermal

Di utarakan oleh Pemerintah bahwa 40% energy Geothermal ada di Indonesia. Apakah hal ini sudah diselidiki (seperti halnya shale gas)? Berdasarkan persepsi tsb. maka Dewan Energy Nasional menetapkan bahwa geothermal akan ditingkatkan 3-4X dari kapasitas sekarang pada tahun 2025.

Bagi swasta yang akan mengelola Geothermal, yang penting adalah harga yang diberikan, yaitu antara 8.4-11 cent/kwh. Dikusi antara PLN dan Pertamina yang bertele-tele adalah karena Pertamina manganggap harga tsb. terlalu murah sedangkan PLN mengangap harga terlalu mahal. Pdahal Dewan Energy Nasional (dan juga Peraturan Preesiden) ingin geothermal digalakkan dan mentargetkan kenaikan energy Geothermal 4-6X tahun 2025, sesuatu yang sebetulnya mustahil. Geothermal seperti minyak memerlukan waktu 10-15 tahun dari eksplorasi sampai significant production. Hal ini seperti kalau kita minta supaya produksi minyak dinaikkan 4 juta bbl/sehari pada tahun 2025?

Harga uap tsb jauh dibawah impor BBM pemerintah. Harga uap tsb. jauh lebih rendah dari harga beli LNG dari Bontang ke Muara Karang. Harga uap tsb. diatas harga batubara hingga PLN prefer batubara dan selalu membandingkan dengan batubara karena harga jual listrik ke rakyat dipatok Pemerintah.  Dengan harga uap rendah tsb. geothermal swasta, sukar bergerak meskipun dilakukan dengan gebrakan dua tangan Dahlan.

Yang mungkin bisa dengan harga uap rendah tsb. hanyalah Geothermal yang premium, yaitu yang H2S rendah, tidak ada scaling carbonate atau silicate, vapour dominated, dan dekat dengan cable aliran listrik. Ini merupakan exception dan tidak bisa dipakai sebagai patokan kalau ingin menaikkan produksi Geothermal sampai 4-6 X ditahun 2025.

 

Daftar Pustaka

HL Ong, 2014, Bahan Ajar Kuliah Ekonomi Migas, ITB: unpublished.

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: