Advertisements

Archive

Archive for the ‘Basic Geology’ Category

PENGENALAN PEMETAAN GEOLOGI PERMUKAAN DENGAN METODE PENGUKURAN STRATIGRAFI TERUKUR DAN TERIKAT (ATAU SERING DISEBUT CHAINING)

PENGENALAN PEMETAAN GEOLOGI PERMUKAAN DENGAN METODE PENGUKURAN STRATIGRAFI TERUKUR DAN TERIKAT (ATAU SERING DISEBUT CHAINING)

Lembar peta geologi yang berada pada daerah yang permukaannya tersusun oleh batuan sedimen biasanya mengunakan satuan stratigrafi batuan dari unit litostratigrafi yaitu berupa bed, bed set, anggota, formasi, dan grup. Pengelompokan satuan batuan ini biasanya berdasarkan atas kesamaan ciri fisik dan jenis batuan. Ciri fisik dan jenis batuan yang dimaksud seperti perlapisan batupasir, perselingan batupasir dan batulempung, batugamping terumbu, batugamping berlapis, batupasir tuffaan, napal, breksi, konglomerat, batubara dan lain sebagainya. Penamaan dari unit litostratigrafi  ini biasanya didasarkan atas lokasi atau daerah ditemukannya atau atau kesamaan ciri fisik dan jenis batuan di daerah tertentu. Sering menjadi kendala dalam pengaplikasian pemetaan geologi dengan unit litostratigrafi adalah apabila jenis batuan dikaitkan dengan detail lingkungan pengendapan yang  mempunyai kemiripian jenis dan sifat fisik batuan. Seperti pada kasus batuan sedimen pada lingkungan fluvial – delta, pada lingkungan ini batulempung, batupasir, batubara yang terdapat pada fluvial, upper delta plain (UDP), lower delta front (LDP), delta front, bahkan pro-delta sampai slope. Sering pula pada peta geologi saat ini penamaan dan pengelompokan unit stratigrafi ini terbatas atas kapling atau batas pemetaan sehingga penamaan atas unit batuan yang sama secara fisik dan jenis batuannya bisa memiliki nama yang beda walaupun bersebelahan atau bahkan bertampalan pada batas lokasi pemetaan.

Karena hal-hal tersebut di atas, sering diaplikasikan pemetaan berbasis unit stratigrafi fasies lingkungan pengendapan. Pemetaan dengan unit stratigrafi ini sebenarnya juga berlandaskan dan didukung data dan analisis litostratigrafi, kronostratigrafi, biostratigrafi, dan sekuen stratigrafi. Sering pula dalam pelaksaanaan pekerjaan dan hasil stratigrafi dibuat kesebandingan antara unit stratigrafi tersebut, bahkan dengan mudah dapat pula dibuat peta geologi fasies lingkungan pengendapan, serta peta geologi litostratigrafi detail.

Metode chaining ini merupakan modifikasi atau kombinasi dari ilmu pemetaan geologi yang secara umum telah diajarkan saat dibangku perkuliahan. Tulisan ini disusun atas dasar pengalaman beberapa kali pemetaan geologi untuk memecahkan beberapa kasus eksplorasi, seperti dalam kasus permasalahan stratigrafi, apakah Eosen sudah di permukaan ataukah masih terpendam jauh di dalam?; Permasalahan struktur geologi, apakah terjadi rembesan hidrokarbon dari lead sub-thrust?; Permasalahan sistem perminyakan, bagaimana sebaran dan play sistem perminyakan berumur Paleogen pada lapangan yang di atasnya sudah produksi hidrokarbon Sistem Perminyakan Neogen?; serta kasus lainya seperti stratigrafi dan potensi sistem perminyakan batuan berumur pra-Tersier; Menjadi jembatan studi geologi dan geofisika selanjutnya, seperti mendapatkan informasi kedalaman distribusi batubara yang mengadsorb energi seismik, merekomendasikan fokus studi lokasi survey microseepage berdasarkan play sistem perminyakan yang digenerate dari proses pemetaan geologi.

SEKILAS TENTANG BEBERAPA TEKNIK PEMETAAN GEOLOGI

Teknik akuisis data dalam pemetaan geologi yang biasa dilakukan yaitu:

1. Spot mapping.

Metode spot mapping ini biasanya sering dipakai dan diajarkan di kampus-kampus. Lazimnya setiap geologis pernah mengaplikasikan teknik ini. Metode ini biasanya juga disertai dengan pengukuran penampang stratigrafi pada lokasi yang memiliki singkapan tersingkap baik. Pekerjaan spot mapping biasanya memiliki kaidah dan persyaratan tertentu mengenai kerapatan data, arah lintasan, luas daerah studi, dan scope of work (cakupan kerja), skala pemetaan.

2. Chaining atau pengukuran stratigrafi terukur dan terikat.

Pemetaan metode chaining atau pengukuran stratigrafi terukur dan terikat sepanjang jalur pemetaan dilakukan dengan membuat log litologi kontinyu sepanjang jalur pemetaan. Biasanya menggunakan skala pengamatan 1:1000. Inti pekerjaan ini merupakan kombinasi 3 pekerjaan utama, yaitu navigasi dan pengukuran lintasan, pengamatan dan pencatatan kondisi geologi secara detail, pengambilan contoh batuan dan rembesan hidrokarbon.

Diagram Alir Pekerjaan Pemetaan Geologi Chaning Untuk Studi Lingkungan Pengendapan dan Sistem Perminyakan

Gambar Diagram Alir Pekerjaan Pemetaan Geologi Chaining Untuk Studi Lingkungan Pengendapan dan Sistem Perminyakan (Jikalau gambar tidak jelas silahkan diklik pada bagian gambar dan di zoom)

3. Kombinasi.

Kegiatan pemetaan geologi chaning memiliki nilai akurasi dan ketelitian lebih baik baik dalam akuisi data dan pengolahan. Untuk lebih mebdapatkan hasil lebih baik dan optimal atas pertimbangan teknis dan biaya biasanya dilakukan kombinasi metode pemetaan chaining dan spot mapping.

PELAKSANAAN PEMETAAN DAN CHAINING YANG BIASA DILAKUKAN

Metode chaning saya kenal dan sering saya gunakan saat kerja di GDA Consulting, Beberapa objektif atau aspek geologi dan non teknis yang bisa didapat dari kegitan pemetaan geologi dengan metode chaining adalah

1. Detail stratigrafi dan sedimentologi serta sebaran litologi daerah telitian

2. Detail struktur geologi, form line map dan rekonstruksi palinspatik

3. Potensi komponen sistem perminyakan (Batuan Induk, Reservoir, Seal, dan Trap). Biasanya dibuat peta kekayaan dan kematangan batuan induk, peta distribusi reservoir, peta distribusi batuan penutup.

4. Geomorfologi, dipetakan bentuk lahan dan bentang alam.

5. Tata guna lahan, dalam proses akuisisi data selain aspek teknis tim juga memetakan tata guna lahan. Didapatkan informasi batas wilayah cagar alam dan hutan lindung, batas wilayah dari perkebunan dan informasi pemilik, perkembangan pembukaan lahan hutan oleh proses penambangan ataupun perkebunan, lokasi permukiman, bahkan dilakukan pencatatan habitat hewan atau tumbuhan dilindungi ataupun hewan buas.

6. Rembesan hidrokarbon dan air formasi.

7. Penyelidikan kebocoran lead melalui struktur sesar yang sampai ke permukaaan.

8. Sebaran mud volcano dan intrusi lumpur (mud volcano) ke litologi lebih muda.

9. Peleogeografi diberbagai umur dengan data stratigrafi, struktur geologi paleocurrent, provenan.

10. Model pengisian cekungan dari kolom stratigrafi gabungan yang terukur, terikat, terkoreksi oleh struktur geologi, analisis biostratigrafi, serta sejarah pembeban.

11. Pengikatan data geologi sepanjang lintasan survei dengan data geologi dan geofisika seperti data sumur, seismik, titik survey magnetotulerik, microseepage, gravity, geolistrik. Sumur migas biasanya digunakan untuk panduan korelasi dan kalibrasi ketebalan.  Adanya seismik membantu dalam penelurusuran dan integrasi data batuan dipermukaan dan dibawah permukaan serta struktur geologi. Dengan integrasi data geologi permukaan dan bawah permukaan dapat dibuat penampang 2D dan 3D play sistem perminyakan. Diikutinya pemetaan geologi dengan survey microseepage akan membantu mendeleniasi keterdapatan lead geokimia dari indikasi keterdapatan hidrokarbon secara langsung di area terdapatnya anomali microseepage yang sinyalnya berasal dari reservoir dibawah permukaan kemudian merebes ke permukaan dan ditangkap dengan model dengan konsentrasi ng ppt (nanno gram part per trilyun).

 

Gambar Diagram Alir Pekerjaan Pemetaan Geologi Chaining dan Survey Microseepage (Jikalau gambar tidak jelas silahkan diklik pada bagian gambar dan di zoom).

 

12. Penambahan/integrasi data litologi cutting yang diambil dengan waktu akuisis data yang bersamaan dengan pengeboran seismik.

13. Pemetaan akses jalan, keterdapatan sinyal dan modulasi radio serta fasilitas kesehatan dan fasilitas penting lainnya (pasar, masjid, atm, polisi, militer, sekolah, hotel, jembatan, dan lain sebagainya) yang akan berguna saat kegiatan eksplorasi lanjut.

14. Kuantifikasi stratigrafi seperti ketebalan unit batuan. Sehingga sangat membantu dalam perencanaan sumur seperti dalam pembuatan prognosis sumur yang direncakan dibor.

Berikut adalah beberapa hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam proses desain survei dan akuisisi data saat pekerjaan chaining:

a. Target objek geologi dan sistem perminyakan; seperti dijelaskan di atas.

b. Skala pengamatan; seperti dijelaskan di bawah.

c. Akses dan panjang lintasan; Jenis akses pemetaan geologi yang utama bisanya road cut, sungai, area tambang. Lintasan umurnnya memotong atau relatif tegak lurus jurus ataupun struktur yang akan distudi.

d. Lama waktu penelitian dan siklus on-off; lama waktu akuisisi data lapangan biasanya berkisar  satu sampai dua bulan. didalam waktu tersebut biasanya ada kalanya geologis akuisis data lapangan dan ada kala perapian database serta istirahat.

e. Organisasi dan jumlah anggota tim.  Tim lapangan tersusun atas tim rintis, tim geologis, tim radio, tim HSSE, dan tim logistik.

f. Peralatan dan perlengkapan; Peralatan lapangan yang digunakan standar seperti pemetaan geologi selazimnya, akan tetapi ditambahi dengan alat navigasi, alat ukur elevasi dan azimuth, serta meteran 50m.

g. Logistik dan camp; Camp biasanya tersusun atas camp utama (basecamp) dan flaying camp untuk lintasan yang tidak memungkinkan Pulang Pergi dalam satu hari.

h. Komunikasi dan pelaporan; Biasanya setiap tim dibekali dengan radio HT yang tersambung ke repeater, telephon satelit dan handphone. Geologist melaporkan pergerakan dan progres pekerjaan kepada radioman dan koordinator lapangan minimum 3 kali sehari.

i. Manajemen resiko dan rencana tanggap darurat.

TINGKAT AKURASI DAN KONTROL KUALITAS DATA

Dengan luas pemetaan geologi ratusan sampai puluhan ribu kilometer persegi (100 sd 10000 km2) yang pernah dilakukan. Beberapa skala yang dapat mengambarkan tingkat akurasi pencatatan dan pengolahan data yaitu:

  1. Kolom stratigrafi chaning dipakai skala 1:1000 sd 1:4000
  2. Kolom stratigrafi singkapan kunci skala 1:10 sd 1:100
  3. Kolom stratigrafi komposit digunakan skala 1:4000 sd 1:25000
  4. Peta lintasan, peta geologi, geomorfologi digunakan skala 1:25000 sd 1:125000

Kontrol kualitas yang dilakukan meliputi:

  1. Sebelum ke lapangan setiap geologis dibekali ilmu geologi dan HSE yang mumpuni, serta dilakukan standarasi dalam perekaman data.
  2. Kontrol kualitas data dan interpretasi data geologi dilakukan oleh ekspertise yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan regional yang baik.
  3. Kegiatan survey geologi permukaan selalu coba dikalibrasikan data geologi dan geofisika bawah permukaan yang ada
  4. Kontrol analisis sampel di laboratorium dilakukan oleh biostratigrafer berpengalaman, dan secara berkala dilakukan diskusi hasil analisis dari analis dan geologis yang ke lapangan.
  5. Kontrol non teknis seperti aspek kesehatan dicek tiap hari oleh tim medis sebelum safety breafing, kontrol armada dan kapal dicek oleh pengawas HSSE secara berkala.

Sekilas mengenai pengenalan pemetaan geologi dengan metode chaining disampaikan seperti tulisan di atas. Untuk detail kegiatan, teknik pengolahan dan integrasi data, pemakaian rumus dan aplikasi kalibrasi kolom stratigrafi, standar detail deskripsi singkapan, sintesa sistem perminyakan, serta dasar teori belum dapat disampaikan dalam tulisan ini. Kegiatan lanjutan dari pemetaan geologi serta integrasi data guna pemecahan masalah geologi dan sistem perminyakan spesifik akan diulas pada tulisan selanjutnya.

Advertisements

PENGANTAR PETROLOGI, JENIS REKAHAN, DAN PELAPUKAN BATUAN RESERVOIR GRANITIK

PENGANTAR PETROLOGI, JENIS REKAHAN, DAN PELAPUKAN BATUAN RESERVOIR GRANITIK

Salah satu jenis batuan yang menjadi batuan dasar yang berpotensi sebagai reservoir di dearah penelitian adalah granit. Pada bagian ini akan diberikan uraian mengenai pengantar petrologi dari granit, beberapa kemumgkinan genesa atau asal muasal terbentuknya porositas dan permeabilitas batuan granit karena adanya rekahan dan pelapukan. Selain itu uraian proses sedimentasi jarak dekat disekitar tinggian, yang masih mencerminkan batuan granit sebagai granit wash juga tercantum pada bagian ini.

Tulisan ini diharapkan sedikit banyak dapat memberikan pemahaman/dasar teori kepada pembaca mengenai gambaran/analogi kondisi reservoir di bawah permukaan dan singkapan batuan granit yang ada dipermukaan, untuk itu perlu juga dibaca tentang model migrasi dan akumulasi batuan dasar pada tulisan sebelumnya pada kategori “Basement Reservoir” (link: https://ptbudie.com/2014/04/01/migrasi-dan-akumulasi-hidrokarbon-dari-batuan-induk-menuju-batuan-dasar-yang-terekahkan/)

A. Pengantar Petrologi Batuan Granit

Menurut Graha (1987) granit diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan atas tekstur utamanya yaitu granit faneritik dan afanitik.

Granit Faneritik

Granit kelompok ini terdiri dari batuan pluton yang biasa disebut dengan batolit. Granit ini berbutir sangat kasar dengan kombinasi warna antara putih sampai abu-abu. Bertekstur holokristalin, hipidiomorpik, dan equigranular. Fenokris yang besar dari ortoklas, kadang-kadang batuan ini ada yang bertekstur porpiri. Dalam jumlah yang sangat kecil kita akan mendapatkan xenolit didalam tubuh granit. Struktur yang biasa terdapat pada batu granit adalah struktur kekar. Read more…

KLASIFIKASI SESAR BERDASARKAN PRINCIPAL STRESS MENURUT ANDERSON (1951)

KLASIFIKASI SESAR BERDASARKAN PRINCIPAL STRESS MENURUT ANDERSON (1951)

Klasifikasi Anderson (1951) membagi jenis sesar berdasarkan atas principle stress. Principal stress adalah stress yang bekerja tegak lurus bidang sehingga harga komponen shear stress pada bidang tersebut adalah nol. Bidang tersebut dikenal sebagai bidang utama atau principal surface. Terdapat tiga principal stress yaitu s1, s2, dan s3, dimana σ1 (S1) >  (S2) > σ3 (S3). Dari 3 sumbu tersebut dapat pisahkan menjadi 2 sumbu berdasarkan orientrasi sumbu, yaitu sumbu horizontal (Sh) dan sumbu vertikal (Sv), dimana Sh terdiri dari 2 sumbu yaitu sumbu horizontal dengan nilai maksimum (SHmax) dan sumbu horizontal dengan nilai minimum (Shmin), sedangkan Sv hanya mempunyai satu sumbu saja. Sumbu ini lah yang mengontrol terbentuknya klasifikasi sesar, yaitu sesar normal, sesar naik dan sesar mendatar.

Klasifikasi Sesar dan Principal Stress Pembentuknya (Anderson, 1951 dalam Zoback 2007)

Gambar 1. Klasifikasi Sesar dan Principal Stress Pembentuknya (Anderson, 1951 dalam Zoback 2007)

Tabel 1. Hubungan sumbu dengan jenis sesar berdasarkan Klasifikasi Anderson (1951)

Read more…

Categories: Structural Geology

SESAR NORMAL (NORMAL FAULT)

SESAR NORMAL (NORMAL FAULT)

Model Sesar Normal

Secara umum, model sesar yang terbentuk pada sesar normal adalah sesar planar dan sesar listrik dengan gerakan yang rotasional maupun non rotasional. Gerakan rotasional pada sesar planar akan menghasilkan efek domino sehingga lapisan batuan pada hanging wall dan foot wall akan berotasi. Sedangkan sesar planar non rotasional akan menghasilkan sesar normal dengan sudut yang tinggi dan rendah.

Sesar listrik merupakan sesar normal yang bergerak pada bidang yang melengkung. Bila gerakannya rotasional, maka hanya lapisan pada hanging wall yang akan berotasi. Sedangkan apabila pergerakannya non rotasional, maka dapat terjadi kompaksi pada lapisan batuan setelah terjadinya sesar.

Model sesar normal dalam Hill (2003)

Gambar 1. Model sesar normal dalam Hill (2003)

 

Menurut Twiss dan More (1992) sesar normal dibagi menjadi tiga tipe model berdasarkan geometri dan pergerakannya yaitu: Read more…

DESKRIPSI BATUAN BEKU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Batuan beku dapat dipisahkan menjadi batuan beku non fragmental dan batuan fragmental. Pada umumnya batuan beku non fragmental berupa batuan beku intrusif ataupun aliran lava yang tersususn atas kristal-kristal mineral. batuan beku fragmental juga dikenal dengan batuan piroklastik (pyro=api, clastics= butiran/pecah) yang merupakan bagian dari batuan volkanik.  Sebagai catatan, pada tulisan ini akan lebih menekankan pembahasana pada batuan beku non fragmental. Secara umum yang utama  harus diperhatikan dalam deskripsi batuan adalah:

  1. Warna Batuan
  2. Struktur Batuan
  3. Tekstur Batuan
  4. Bentuk Batuan
  5. Komposisi Mineral Batuan

1. Warna Batuan

Menurut Subroto (1984), yang diperhatikan pertama kali dalam deskripsi batauan beku adalah warna. Warna dari sampel batuanbeku dapat menentukan komposisi kimia batuan tersebut. Ada empat kelompok warna dalam batuan beku: Read more…

STRUKTUR DAN TEKSTUR BATUAN METAMORF

STRUKTUR DAN TEKSTUR BATUAN METAMORF

A. Struktur Batuan Metamorf

Adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran, bentuk atau orientasi unit poligranular batuan tersebut. (Jacson, 1997).  Secara umum struktur batuan metamorf dapat dibadakan menjadi struktur foliasi dan nonfoliasi (Jacson, 1997).

1. Struktur Foliasi

Merupakan kenampakan struktur planar pada suatu massa. Foliasi ini dapat terjadi karena adnya penjajaran mineral-mineral menjadi lapisan-lapisan (gneissoty), orientasi butiran (schistosity), permukaan belahan planar (cleavage) atau kombinasi dari ketiga hal tersebut (Jacson, 1970).

Struktur foliasi yang ditemukan adalah :

1a. Slaty Cleavage

Umumnya ditemukan pada batuan metamorf berbutir sangat halus (mikrokristalin) yang dicirikan oleh adanya bidang-bidang belah planar yang sangat rapat, teratur dan sejajar. Batuannya disebut slate (batusabak). Read more…

PENGERTIAN UMUM BATUAN SEDIMEN DAN KLASIFIKASINYA

PENGERTIAN UMUM BATUAN SEDIMEN DAN KLASIFIKASINYA

A. Batuan Sedimen di Bumi

Volume batuan sedimen dan termasuk batuan metasedimen hanya mengandung 5% yang diketahui di litosfera dengan ketebalan 10 mil di luar tepian benua, dimana batuan beku metabeku mengandung 95%. Sementara itu, kenampakan di permukaan bumi, batuan-batuan sedimen menempati luas bumi sebesar 75%, sedangkan singkapa dari batuan beku sebesar 25% saja. Batuan sedimen dimulai dari lapisan yang tipis sekali sampai yang tebal sekali. Ketebalan batuan sedimen antara 0 sampai 13 kilometer, hanya 2,2 kilometer ketebalan yang tersingkap dibagian benua. Bentuk yang besar lainnya tidak terlihat, setiap singkapan memiliki ketebalan yang berbeda dan singkapan umum yang terlihat ketebalannya hanya 1,8 kilometer. Di dasar lautan dipenuhim oleh sedimen dari pantai ke pantai. Ketebalan dari lapisan itu selalu tidak pasti karena setiap saat selalu bertambah ketebalannya. Ketebalan yang dimiliki bervariasi dari yang lebih tipis darim0,2 kilometer sampai lebih dari 3 kilometer, sedangkan ketebalan rata-rata sekitar 1 kilometer (Endarto, 2005 ).

Total volume dan massa dari batuan-batuan sedimen di bumi memiliki perkiraan yang berbeda-beda, termasuk juga jalan untuk mengetahui jumlah yang tepat. Beberapa ahli dalam bidangnya telah mencoba untuk mengetahui ketebalan rata-rata dari lapisan batuan sedimen di seluruh muka bumi. Clarke (1924) pertama sekali memperkirakan ketebalan sedimen di paparan benua adalah 0,5 kilometer. Di dalam cekungan yang dalam, ketebalan ini lebih tinggi, lapisan tersebut selalu bertambah ketebalannya dari hasil alterasi dari batuan beku, oksidasi, karonasi dan hidrasi. Ketebalan tersebut akan bertambah dari hasil rombakan di benua sehinngga ketebalan akan mencapai 2.200 meter. Volume batuan sedimen hasil perhitungan dari Clarke adalah 3,7 x 108  kilometer kubik (Clarke ,1924). Read more…