Advertisements

Archive

Archive for the ‘Sedimentology and Stratigraphy’ Category

DANAU SINGKARAK, SUMATRA BARAT: MENYIMPAN KEKAYAAN PESONA ALAM DAN PELAJARAN GEOLOGI YANG MENARIK UNTUK DIKETAHUI

DANAU SINGKARAK, SUMATRA BARAT: MENYIMPAN KEKAYAAN PESONA ALAM DAN PELAJARAN GEOLOGI YANG MENARIK UNTUK DIKETAHUI

Danau merupakan kumpulan air dalam jumlah besar pada suatu cekungan. Terbetuknya suatu geometri cekungan diantaranya adalah berkaitan erat dengan proses pemekaran dari terban, sesar geser, tektono-volkanik, dan kawah hasil tumbukan meteor. Sedangkan sumber air yang mengisi danau adalah berasal dari hujan, sungai, mata air dan air tanah.

Danau Singkarak adalah sebuah danau tektonik yang secara administratif berada di dalam dua kabupaten yaitu Kabupaten Solok dan Tanah Datar. Perairan danau tersebut memiliki luas areal 107,8 m2, dengan panjang maksimum 21 km dan lebar 7 km. Danau tersebut terletak pada ketinggian 362 di atas permukaan laut.

Peta Administratif Danau Singkarak

Volume air di Danau Singkarak sangat dipengaruhi oleh sungai yang berhubungan langsung dengan danau tersebut. Beberapa sungai yang bermuara ke Danau Singkarak antara lain adalah Sungai Sumpur, Tanjung Mutiara, Paninggahan, Saningbaka, Muara Pingai dan Sumani. Sedangkan saluran pembuangan Danau Singkarak adalah Sungai Ombilin yang mengalir kearah timur bermuara ke Provinsi Riau. Sejak Tahun 1998 air Danau Singkarak dialirkan keluar  juga melaui terowongan PLTA Singkarak  di sebelah barat.

Gambar Panorama Danau Singkarak dari Dermaga (Pandangan Kearah Timur Laut)

 

Gambar Kegiatan Fieldtrip Riset dan Wisata Geologi Danau Singkarak Bersama Petronas Malaysia.

Danau Singkarak merupakan danau tektonik yang struktur geologi dan asal muasal pembentukannya berkaitan erat dengan pergerakan Sesar Sumatra. Sesar Sumatra merupakan sesar geser mengiri yang menyebabkan terbentuknya cekungan tarik urai sampai dengan saat ini yang disebut dengan Danau Singkarak. Hal tersebut ditunjukkan oleh pola-pola kelurusan di sekitar Danau Singkarak memiliki orientasi paralel dengan Sesar Sumatra yaitu tenggara – baratlaut. Sebagai sesar geser yang memiliki segmen, sesar-sesar yang berada di danau ini dapat dikelompokkan menjadi dua buah segmen yaitu Segmen Sianok dan Segmen Sumani. Sesar-sesar pada kedua segmen ini menyebabkan paparan danau yang tidak jauh dan kemiringan permukaan lereng danau yang curam.

Evolusi Danau Singkarak dan Posisinya Terhadap Tektonik Sumatra (Kerry Sieh dan Danny Hilman, 2000, dalam travel.kompas.com)

Proses sedimentasi dan aktifitas sesar-sesar di Danau Singkarak mengontrol proses pengendapan dan pembentukan sub-lingkungan pengendapan di sekitaran Danau Singkarak sampai saat ini. Sesar-sesar akan mengontrol arsitektur kerangka dasar cekungan, proses deformasi sedimen yang belum terkonsolidasi, dan proses sedimentasi yang cepat. Proses sedimentasi yang cepat tersebut terjadi akibat adanya gerakan masa tanah dan batuan yang dipengaruhi oleh adanya aktivitas sesar dan tingkat kejenuhan air pada batuan dan tanah yang kelewat jenuh sehingga terjadilah banjir bandang.

Sembari menikmati keindahan alam Danau Singkarak kami pernah melakukan penelitian geologi di daerah ini, baik di perairannya, di pinggir danau, ataupun di sekitar danau. Dengan menggunakan dua buah kapal berbekal alat stratabox atau ecosounding dengan kemampuan penetrasi kedalaman 300m, GPS, current mater, salinity mater, grabing sedimen, gravity coring kita lakukan analisis batimetri, hidrodinamika, dan sampling litologi. Pada bagian pinggir danau dilakukan pengamatan teras sungai dan tebing, dan pengambilan sampel sedimen dengan pipe core dan cutting pemboran dangkal. Selain itu juga dilakukan survei singkapan batuan dan gejala struktur di sekitar danau. Sampel sedimen di bawa ke laboratorium untuk dilakukan analisis umur isotop karbon, ukuran butir, mineralogi, analisis palinologi, analisis geokimia batuan induk. Penelitian dilakukan bersama pihak industri dan universitas, ada anggota tim dari GDA Consulting, Chevron, Mahasiswa S2 ITB, dan Mahasiswa ITM. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di beberpa kegiatan ilmiah seperti IPA annual convention and exhibition tahun 2016 di Jakarta, serta  AAPG ICE 2015 di Melbourne.

Gambar Kapal dan Tim Penelitian Ecosounding, Hidrodinamika, Grabing, dan Gravity Coring Sedimen di Danau Singkarak.

 

Gambar Survei Ecosounding Untuk Mengetahu Profil Kedalaman Dasar Danau.

 

Gambar Peralatan Grabing, Current, pH & Salinity Meter

 

Gambar Kegiatan Shallow Coring dan Terrace & Outcrop Observation

Litologi permukaan sekitar Danau Singkarak terdiri dari batuan dasar Pra-Tersier, Batuan Vulkanik Kuarter, dan Aluvium Kuarter. Batuan dasar Pra-Tersier di daerah tersebut terdiri dari Granit Ombilin dan batugamping, filit, dan serpih dari Formasi Kuantan. Granit Ombilin di daerah ini berumur Permian, sedangkan batugamping, filit, dan serpih dari Formasi Kuantan berumur Permian sampai dengan Karbon. Singkapan Granit Ombilin ditemukan di bagian utara dari daratan pinggiran danau ini, yaitu di dekat Sungai Ombilin. Batuan filit, serpih, dan batugamping dari Formasi Kuantan banyak ditemukan di bagian selatan dari daratan pinggiran Danau Singkarak. Aluvium Kuarter banyak ditemukan di bagian tenggara dari daratan pinggiran Danau Singkarak. Batuan dan sedimen vulkanik banyak ditemukan di bagian utara Danau Singkarak, yaitu tepatnya di sepanjang Daerah Aliran Sungai Sumpur, yang merupakan jalur aliran material vulkanik yang berasal dari Gunung Marapi.

Lingkungan pengendapan di sekitar Danau Singkarak dapat dikelompokkan menjadi tiga areal berdasarkan posisi, kedalaman dan interaksinya dengan air danau, yaitu areal daratan pinggiran danau, areal transisi, dan areal perairan danau. Di Danau Singkarak, pada areal daratan pinggiran danau terbentuk kompleks sungai berbelok dan sungai teranyam, dataran aluvial, dan kipas aluvial. Di sisi lain, yaitu pada areal transisi terbentuk lingkungan pengendapan delta, kipas delta, pantai danau. Pada perairan danau terbentuk dangkalan danau, dalaman danau, kompleks alur dan tanggul sungai bawah danau, dan kipas bawah danau.

Kompleks sungai berbelok dan sungai teranyam yang bermuara di Danau Singkarak umunya membentuk delta pada bagian muaranya. Sungai yang terbentuk di Danau Singkarak yaitu diantaranya adalah Sungai Berbelok Sumani di bagian selatan Danau Singkarak, Sungai Teranyam Muara Pingai Selatan di bagian barat Danau Singkarak, Sungai Teranyam Sumpur di bagian utara Danau Singkarak, Sungai Berbelok Ombilin di bagian timur Danau Singkarak sebagai saluran keluar. Delta yang terbentuk pada muara dari kompleks sungai berbelok dan sungai teranyam adalah seperti Delta Sumani, Delta Sumpur, dan Delta Muara Pingai. Sedangkan terbentuknya kipas delta adalah selain berkaitan dengan sedimen yang di bawa oleh sungai dan bermuara di perairan danau, juga berkaitan dengan lereng danau yang curam yang terbentuk oleh sesar. Kipas delta yang terbentuk berkaitan dengan sesar geser Segmen Sumani dan Segmen Sianok. Pada Segmen Sumani di sebelah selatan dari Danau Singkarak terbentuk Kipas Delta Saniang Baka, Muara Pingai, dan Paningahan. Pada Segmen Sumani di sebelah utara dari Danau Singkarak terbentuk Kipas Delta Guguk Malalo, Malalo, dan Tanjung Mutiara.

Lingkungan perairan Danau Singkarak dapat diklasifiksikan berdasarkan atas kedalaman, kelerengan, geometri dasar cekungan, serta jenis sedimen yang terendapkan. Danau singkarak memiliki kedalaman paling dalam 272 meter dibagian tengah danau. Batas perubahan kelerangan Danau Singkarak dari landai menjadi curam yaitu rata-rata pada kedalaman 30 meter. Lingkungan dangkalan danau yaitu pada kedalaman 0 sampai dengan 30 meter dengan kelerengan landai. Sedangkan lingkungan dalaman danau terbentuk pada kedalaman lebih dari 30 meter dengan kelerengan curam dengan sedimen dominan berupa lempung. Selain itu diperairan danau juga terbentuk lingkungan kompleks alur dan tanggul sungai bawah danau oleh kemenerusan sungai yang masuk ke perairan danau, dengan ditandai diendapkannya sedimen berukuran kasar yaitu pasir sampai kerakal. Pada ujung dari kompleks alur dan tanggul sungai bawah danau terbentuk kipas bawah danau pada dalaman danau dengan sedimen utama berupa pasir sampai kerakal.

Gambar Kegiatan Presentasi Hasil Penelitian Danau Singkarak di AAPG ICE 2015 (Publikasi bersama Dr. Andang Bachtiar, Purnama Ary Suandhi, Prihatin Tri Setyobudi, Octavika Malda, Faizil Fitris, Anita Galih, Zaka Lesaman, dan Lamsyah budin).

 

Gambar Panorama Senja di Danau Singkarak (Foto oleh Oktavika Malda)

Advertisements

APLIKASI SEKUEN STRATIGRAFI UNTUK DATA WELLLOG

APLIKASI SEKUEN STRATIGRAFI UNTUK DATA WELLLOG

Sebelum masuk ke tema ini hendaknya dipahami mengenai sekuen stratigrafi dahulu. Sebagai referensi bisa dilihat di halaman https://ptbudie.wordpress.com/2010/12/17/sekuen-stratigrafi/.

System tract secara genesa diasosiasikan dengan unit stratigrafi yang mengendap selama fase tertentu oleh siklus muka laut relatif (Posamentier, et al, 1988). Unit itu menjelaskan kembali rekaman batuan berupa tiga dimensi pembentuk fasies. Ketiga dimensi itu berupa tipe dari permukaan batas, posisi dalam sebuah sekuen, dan pola tumpukan parasekuen (Van Wagoner et al., 1988).

Menurut Van Wagoner et al.(1987), system tract yang membentuk sebuah single depositional sequence adalah

  1. Lowstand System Tract (LST)
  2. Transgressive System Tract (TST)
  3. Highstand System Tract (HST)
  4. Shelf Margin System Tract (SMFT)

Berikut di bawah adalah diagram sequen stratigrafi yang normal tanpa ada ganguan struktur sekunder yang memberikan gambaran hubungan antara systems tract serta batas-batas yang memisahkan antar sytems tract tersebut. Read more…

PENGERTIAN STRATIGRAFI

PENGERTIAN STRATIGRAFI


Stratigrafi dalam arti luas adalah ilmu yang membahas aturan, hubungan dan kejadian (genesa) macam-macam batuan di alam dengan ruang dan waktu, sedangkan dalam arti sempit ialah ilmu pemerian batuan (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).

Pengolongan stratigrafi ialah pengelompokan bersistem batuan menurut berbagai cara, untuk mempermudah pemerian aturan dan hubungan batuan yang satu terhadap lainnya. Kelompok bersistem tersebut di atas dikenal sebagai Satuan Stratigrafi (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996).

Batas satuan stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas penyebaran ciri satuan tersebut sebagaimana didefinisikan Batas satuan Stratigrafi jenis tertentu tidak harus berhimpit dengan batas satuan satuan stratigrafi jenis lain, bahkan dapat memotong satu sama lain (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996). Read more…

KORELASI UNIT STRATIGRAFI

KORELASI UNIT STRATIGRAFI

 

Korelasi adalah sebuah bagian fundamental dari stratigrafi, dan lebih lagi merupakan usaha dari stratigraphers dalam membuat unit stratigrafi yang formal yang mengarah pada penemuan praktis dan metode yang dapat dipercaya untuk korelasi unit ini dari suatu area dengan lainnya (Boggs, 1987).

Dalam korelasi stratigrafi, pemahaman kita tentang korelasi sangat dipengaruhi oleh prinsip dasar, konsep baru dan peralatan analisa (analytical tools) sehingga bisa dihasilkan metode baru dalam korelasi.

Definisi dan Prinsip Korelasi

Korelasi ialah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996).

Menurut North American Stratigrafi Code (1983) ada tiga macam prinsip dari korelasi:

1.    Lithokorelasi, yang menghubungkan unit yang sama lithologi dan posisi stratigrafinya.

2.    Biokorelasi, yang secara cepat menyamakan fosil dan posisi biostratigrafinya.

3.    Kronokorelasi, yang secara cepat menyesuaikan umur dan posisi kronostratigrafi. Read more…

Sekuen Stratigrafi

SEKUEN STRATIGRAFI

 

Sikuen stratigrafi adalah studi stratigrafi yang berhubungan dengan kerangka waktu pengendapan dalam kaitannya perubahan siklus muka laut (global/regional).

Pembagian Orde Sikuen Stratigrafi

Setiap sikuen pengendapan terdiri dari perulangan perlapisan yang dibatasi oleh permukaan erosi (UC) atau hiatus atau permukaan yang selaras (C) (Van Wagoner et.al., 1987). Sikuen dibatasi secara regional oleh ketidakselarasan (UC) atau permukaan keselarasan (C) (Mitchum et.al., 1977). Elemen penting dalam menentukan pola-pola sikuen stratigrafi adalah shelf/slope break. Read more…

Arsitektur Stratigrafi

STRATIGRAPHIC ARCHITECTURE

Menurut Posamentier et al (1999), Stratigraphic Architecture dipengaruhi oleh:

  1. Relative Sea level; yang berkaitan erat dengan Eustasy dan subsidence atau uplift.
  2. Pasokan Sedimen; yang berkaitan dengan provenance dan lithology.
  3. Fisiografi; yang dikontrol oleh tektonik dan proses sedimentasi.

Diagram Stratigraphic Architecture (Posamentier et al., 1999)

Eustasy adalah pergerakan permukaan air laut, diukur dari  permukaan air laut sampai datum tetap. Relative see lavel dipengaruhi oleh eustasy dan total subsidence dan uplift (Posamentier et al., 1988). Read more…