Advertisements

Archive

Archive for the ‘Petroleum Geology’ Category

ESTIMASI KANDUNGAN GAS METANA BATUBARA DENGAN PERSEPSI KONDISI RESERVOIR, SIFAT FISIKA-KIMIA BATUBARA DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN

ESTIMASI KANDUNGAN GAS METANA BATUBARA DENGAN PERSEPSI KONDISI RESERVOIR, SIFAT FISIKA-KIMIA BATUBARA DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN

Gas metana batubara (GMB) merupakan salah satu jenis hidrokarbon berupa gas berkomposisi utama metana yang tersimpan dalam reservoir beupa batubara. Gas metana tersimpan dalam pori dan cleat batubara bersamaan dengan air. Jikalau dalam migas konvensional terdapat istilah saturasi hidrokarbon, di dalam perhitungan volumetrik gas metana batubara diperlukan nilai gas content atau kandungan gas.

Tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang hubungan antara sifat fisis dan geokimia batubara serta lingkungan pengendapan batubara dengan kualitas reservoir gas metana, mendapatkan formula perhitungan gas content (kandungan gas) dari analisis proksimat  dan ultimat yang dapat diaplikasikan di lapangan. Properti yang terkait seperti kandungan abu, kadar sulfur, kandungan lengas dikontrol oleh maseral tumbuhan penyusun, lingkungan pengendapan dan proses coalification. Untuk melihat kenampakan fisik dan struktur sedimen kita perlu melihat inti dari batubara dan batuan di atas dan bawahnya sehingga kita dapat menginterpretasikan lingkungan pengendapan dan diagenesa yang terjadi. Dengan mengetahui dan melihat langsung batuan atau inti bor kita dapat melakukan kalibrasi atau cross-check dengan properti fisika-kimia batubara dari laboratorium.

Gambar Kegiatan Deskripsi Inti Bor untuk Mengetahui Litologi, Ciri Fisik, dan Interpretasi Lingkungan Pengendapan

Gambar Kegiatan Deskripsi Inti Bor untuk Mengetahui Litologi, Ciri Fisik, dan Interpretasi Lingkungan Pengendapan Pekerjaan Studi Geologi Geofisika Gas Metana Batubara. (Foto dari kiri ke kanan: Dimas Lanang Bayushakti, Rahman Aliah, Andang Bachtiar, Jafilus Nurdin, Prihatin Tri Setyobudi).

Secara umum metode pengukuran gas yang dapat tersimpan dan dapat terambil dari batubara di lapangan dan di laboratorium adalah dengan test desorpsi dan tes adsorpsi. Test adsorpsi biasanya dilakukan di laboratorium dan melakukan test dengan pendekatan kondisi tekanan dan temperatur reservoir batubara. Beberpa model persamaan telah dipublikasikan untuk mengetahui besarnya kandungan gas (gas content), yaitu: Read more…

Advertisements

SEKILAS METODE PENYELIDIKAN GEOLOGI DAN GEOFISIKA KARAKTERISTIK RESERVOIR BATUAN DASAR

SEKILAS METODE PENYELIDIKAN GEOLOGI DAN GEOFISIKA KARAKTERISTIK RESERVOIR BATUAN DASAR

Penyelidikan karakteristik pada reservoir batuan dasar ini terdiri dari penyelidikan langsung dan penyelidikan tidak langsung. Penyelidikan langsung diantaranya adalah berupa pengamatan singkapan dipermukaan, penyelidikan cutting pemboran mud log dan inti pemboran. Secara visual geometri rekahan ataupun pelapukan dan pelarutan dapat teramati dari inti pemboran. Selain itu dari inti pemboran juga dapat diketahui sifat mekanika batuan dengan melalui proses tes di laboratorium.

Penyelidikan tidak langsung adalah pengamatan dengan mengunakan metode-metode geofisika, yaitu

A. Penyelidikan Conventional Log

Penyelidikan conventional log adalah dengan mengunakan log Gamma Ray (GR), Spontaneous Potential (SP), Resistivitas, Neutron, Densitas, dan Sonik.

Log Gamma Ray (GR) adalah metoda untuk mengukur radiasi sinar gamma yang dihasilkan oleh unsur-unsur radioaktif yang terdapat di dalam batuan di sepanjang lubang bor. Unsur radioaktif yang terdapat dalam lapisan batuan tersebut diantaranya Uranium, Thorium, Potassium, Radium (Harsono, 1997).

Menurut Harsono (1997) log SP (Spontaneous Potential) merupakan hasil dari pengukuran beda potensial arus searah antara elektroda di dalam lubang bor dengan elektroda di permukaan.

Log neutron merupakan log yang berfungsi untuk menentukan besarnya porositas suatu batuan (Harsono, 1997). Log ini tidak mengukur porositas sesungguhnya dari batuan, melainkan yang diukur adalah keterdapatan hidrogen dalam pori-pori batuan.

Tabel 1. Kegunaan Utama Open-hole Wireline Logs (Rider, 2002)

Tabel 1. Kegunaan Utama Open-hole Wireline Logs (Rider, 2002)

Read more…

PENGANTAR PETROLOGI, JENIS REKAHAN, DAN PELAPUKAN BATUAN RESERVOIR GRANITIK

PENGANTAR PETROLOGI, JENIS REKAHAN, DAN PELAPUKAN BATUAN RESERVOIR GRANITIK

Salah satu jenis batuan yang menjadi batuan dasar yang berpotensi sebagai reservoir di dearah penelitian adalah granit. Pada bagian ini akan diberikan uraian mengenai pengantar petrologi dari granit, beberapa kemumgkinan genesa atau asal muasal terbentuknya porositas dan permeabilitas batuan granit karena adanya rekahan dan pelapukan. Selain itu uraian proses sedimentasi jarak dekat disekitar tinggian, yang masih mencerminkan batuan granit sebagai granit wash juga tercantum pada bagian ini.

Tulisan ini diharapkan sedikit banyak dapat memberikan pemahaman/dasar teori kepada pembaca mengenai gambaran/analogi kondisi reservoir di bawah permukaan dan singkapan batuan granit yang ada dipermukaan, untuk itu perlu juga dibaca tentang model migrasi dan akumulasi batuan dasar pada tulisan sebelumnya pada kategori “Basement Reservoir” (link: https://ptbudie.com/2014/04/01/migrasi-dan-akumulasi-hidrokarbon-dari-batuan-induk-menuju-batuan-dasar-yang-terekahkan/)

A. Pengantar Petrologi Batuan Granit

Menurut Graha (1987) granit diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan atas tekstur utamanya yaitu granit faneritik dan afanitik.

Granit Faneritik

Granit kelompok ini terdiri dari batuan pluton yang biasa disebut dengan batolit. Granit ini berbutir sangat kasar dengan kombinasi warna antara putih sampai abu-abu. Bertekstur holokristalin, hipidiomorpik, dan equigranular. Fenokris yang besar dari ortoklas, kadang-kadang batuan ini ada yang bertekstur porpiri. Dalam jumlah yang sangat kecil kita akan mendapatkan xenolit didalam tubuh granit. Struktur yang biasa terdapat pada batu granit adalah struktur kekar. Read more…

BATUAN DASAR CEKUNGAN TERSIER SUMATRA SELATAN

BATUAN DASAR CEKUNGAN TERSIER SUMATRA SELATAN

Batuan dasar di Sumatra Selatan telah terbukti menjadi reservoir hidrokarbon, seperti pada lapangan Suban, dan sewajarnya juga ditemui pada daerah lainnya. Sebelum dibahas lebih lanjut mengenai potensi hidrokarbon dari batuan dasar ini, alangkah baiknya kita kenali lebih dahulu konfigurasi  batuan dasar ataupun batuan pra-Tersier yang ada di Sumatra pada umumnya dan Sumatra Selatan khususnya yang pernah diteliti oleh penulis pada tahun 2010-2011 pada salah satu lapangan di Jambi.

Menurut Salim dkk (1995) sejarah geologi tentang batuan pre-Tersier adalah tidak terlalu dikenali. Deskripsi kejadian pre-Tersier adalah berdasarakan pada penggalan data dari singkapan di Jajaran Pegunungan Barisan, Gunung Tiga Puluh, dan Gunung Dua Belas dan di kepulauan di timur Sumatra seperti Pulau Bangka, Belitung, Singkep dan juga dari data sumur. Bervariasi pada komposisi, bagian pre-Tersier terusun atas granit, kuarsit, batugamping, serpih, meta-sedimen, filit, sekis, andesit, dan basalt. Umur sekuen litologi pre-Tersier berkisar antara Paleozoik akhir sampai Mesozoik Akhir.

Gambar 1. Sebaran Jenis Batuan Dasar di Cekungan Sumatra Selatan (Ginger dan Fielding, 2005)

Gambar 1. Sebaran Jenis Batuan Dasar di Cekungan Sumatra Selatan (Ginger dan Fielding, 2005)

Read more…

MIGRASI DAN AKUMULASI HIDROKARBON DARI BATUAN INDUK MENUJU BATUAN DASAR YANG TEREKAHKAN

MIGRASI DAN AKUMULASI HIDROKARBON DARI BATUAN INDUK MENUJU BATUAN DASAR YANG TEREKAHKAN

Menurut Sircar (2004) ada beberapa kemungkinan terjadinya migrasi minyak ke batuan dasar. Pada umumnya dikenal tiga konfigurasi batuan induk dan batuan dasar, yaitu:

  1. Batuan organik menutupi batuan dasar terekahkan ini, dan karena adanya tekanan yang lokal ke bawah, maka minyak diperas dan dialirkan ke bawah menuju batuan dasar yang terekahkan.
  2. Lateral dengan batuan dasar, namun secara topografi batuan organik di bawahnya yang memproduksi minyak dan mengalirkannya melalui lapisan pembawa, dan termigrasi keatas menuju  batuan dasar.
  3. Batuan induk terletak di bawah daripada batuan dasar. Reservoir lateral yang awalnya menjebak minyak tumpah karena adanya proses tilting atau overfilling

Mekanisme migrasi hidrokarbon ke arah bawah dari sistem reservoir ini sangat memungkinkan ketika terjadi pembesaran rekahan yang diakibatkan selama merekah pada sebuah kondisi ketidakseragaman medan tegangan (stress field). Dilatansi pada batuan reservoir di bawah lapisan sedimen mengurangi tekanan hidrostatik pada area lokal yang terdeformasi. Read more…

RESERVOIR BATUAN DASAR

RESERVOIR BATUAN DASAR

Karakteristik Reservoir Batuan Dasar

Batuan dasar diangap sebagai batuan metamorf ataupun batuan beku (tanpa menghiraukan umur) yang ditumpangi tak selaras oleh sebuah sekuen batuan sedimen (Landes et al, 1960).

Menurut Sircar (2004) batuan dasar umumnya memiliki karateristik keras dan brittle dengan porositas matrik dan permeabilitas yang rendah. Namun biasanya porositas yang berkembang adalah porositas sekunder. Porositas sekunder mungkin dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan asal muasalnya. Yaitu:

  1. Tectonic Porosity yaitu berupa rekahan, sesar, kekar, dan lain-lain, yang bersekala microfracture sampai dengan sesar dan zona yang terdampak sesar yang dapat ditangkap oleh resolusi seismik.
  2. Dissolution Porosity yaitu efek dari adanya pelarutan pada zona pelapukan, atupun juga dapat terjadi pada zona sesar yang berasosiasi dengan sirkulasi hidrotermal.

Arguilera dalam Sircar (2004) mengkarakteristikan reservoir terekahkan berdasarkan atas:

  1. Distribusi porositas antara matrik dan sistem rekahan.
  2. Intensitas jarak antar rekahan
  3. Lebar rekahan Read more…