Advertisements

Archive

Posts Tagged ‘Batuan dasar’

MIGRASI DAN AKUMULASI HIDROKARBON DARI BATUAN INDUK MENUJU BATUAN DASAR YANG TEREKAHKAN

MIGRASI DAN AKUMULASI HIDROKARBON DARI BATUAN INDUK MENUJU BATUAN DASAR YANG TEREKAHKAN

Menurut Sircar (2004) ada beberapa kemungkinan terjadinya migrasi minyak ke batuan dasar. Pada umumnya dikenal tiga konfigurasi batuan induk dan batuan dasar, yaitu:

  1. Batuan organik menutupi batuan dasar terekahkan ini, dan karena adanya tekanan yang lokal ke bawah, maka minyak diperas dan dialirkan ke bawah menuju batuan dasar yang terekahkan.
  2. Lateral dengan batuan dasar, namun secara topografi batuan organik di bawahnya yang memproduksi minyak dan mengalirkannya melalui lapisan pembawa, dan termigrasi keatas menuju  batuan dasar.
  3. Batuan induk terletak di bawah daripada batuan dasar. Reservoir lateral yang awalnya menjebak minyak tumpah karena adanya proses tilting atau overfilling

Mekanisme migrasi hidrokarbon ke arah bawah dari sistem reservoir ini sangat memungkinkan ketika terjadi pembesaran rekahan yang diakibatkan selama merekah pada sebuah kondisi ketidakseragaman medan tegangan (stress field). Dilatansi pada batuan reservoir di bawah lapisan sedimen mengurangi tekanan hidrostatik pada area lokal yang terdeformasi. Read more…

Advertisements

RESERVOIR BATUAN DASAR

RESERVOIR BATUAN DASAR

Karakteristik Reservoir Batuan Dasar

Batuan dasar diangap sebagai batuan metamorf ataupun batuan beku (tanpa menghiraukan umur) yang ditumpangi tak selaras oleh sebuah sekuen batuan sedimen (Landes et al, 1960).

Menurut Sircar (2004) batuan dasar umumnya memiliki karateristik keras dan brittle dengan porositas matrik dan permeabilitas yang rendah. Namun biasanya porositas yang berkembang adalah porositas sekunder. Porositas sekunder mungkin dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan asal muasalnya. Yaitu:

  1. Tectonic Porosity yaitu berupa rekahan, sesar, kekar, dan lain-lain, yang bersekala microfracture sampai dengan sesar dan zona yang terdampak sesar yang dapat ditangkap oleh resolusi seismik.
  2. Dissolution Porosity yaitu efek dari adanya pelarutan pada zona pelapukan, atupun juga dapat terjadi pada zona sesar yang berasosiasi dengan sirkulasi hidrotermal.

Arguilera dalam Sircar (2004) mengkarakteristikan reservoir terekahkan berdasarkan atas:

  1. Distribusi porositas antara matrik dan sistem rekahan.
  2. Intensitas jarak antar rekahan
  3. Lebar rekahan Read more…