Advertisements

Archive

Posts Tagged ‘Geofisika’

RESERVOIR BATUAN DASAR

RESERVOIR BATUAN DASAR

Karakteristik Reservoir Batuan Dasar

Batuan dasar diangap sebagai batuan metamorf ataupun batuan beku (tanpa menghiraukan umur) yang ditumpangi tak selaras oleh sebuah sekuen batuan sedimen (Landes et al, 1960).

Menurut Sircar (2004) batuan dasar umumnya memiliki karateristik keras dan brittle dengan porositas matrik dan permeabilitas yang rendah. Namun biasanya porositas yang berkembang adalah porositas sekunder. Porositas sekunder mungkin dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan asal muasalnya. Yaitu:

  1. Tectonic Porosity yaitu berupa rekahan, sesar, kekar, dan lain-lain, yang bersekala microfracture sampai dengan sesar dan zona yang terdampak sesar yang dapat ditangkap oleh resolusi seismik.
  2. Dissolution Porosity yaitu efek dari adanya pelarutan pada zona pelapukan, atupun juga dapat terjadi pada zona sesar yang berasosiasi dengan sirkulasi hidrotermal.

Arguilera dalam Sircar (2004) mengkarakteristikan reservoir terekahkan berdasarkan atas:

  1. Distribusi porositas antara matrik dan sistem rekahan.
  2. Intensitas jarak antar rekahan
  3. Lebar rekahan Read more…
Advertisements

PROSEDUR AKUISISI DAN QC DATA SEISMIK

PROSEDUR AKUISIS DAN QC DATA SEISMIK


Prosedur Operasi Penyelidikan Seismik

Secara umum kegiatan dalam operasi penyelidikan seismik berdasarkan atas pembagian tugasnya adalah seperti yang telah dijelaskan di atas. Sedangkan untuk tata cara dalam operasi penyelidikan seismik adalah sebagai beikut:

  1. Pelaksanaan tes parameter akuisisi agar survei optimal. Parameter akuisis yang diperoleh berupa interval shot point, Interval receiver, interval shot line, interval Receiver line, Kedalaman lubang SP, banyaknya bahan peledak yang dipakai, gain yang digunakan, fold coverage, channel yang aktif dalam satu penembakan, jumlah geophone per grup, jumlah tembakan per salvo.
  2. Pembuatan desin survei koordinat teoritik dari titik-titk tembak dan receiver dengan mengunakan software MESA.
  3. Pengukuran dan pemberiaan tanda terhadap koordinat titk tembak dan reciver oleh tim topografi dan sambil melakukan pembukaan akses jalan, serta memindahkan (offset dan kompensasi) titik tembak jika ditemukan penghambat dalam survei.
  4. Pengeboran lubang titik tembak dengan kedalaman tertentu sesuai dengan hasil parameter tes yang dilakukan.
  5. Pengisian lubang dengan bahan peledak sesuai dengan aturan.
  6. Penutupan kembali lubang yang telah diisi dengan campuran rumput, tanah, jerami, daun sampai lubang bener-benar tertutup rapat.
  7. Pengukuran/pengecekan terhadap koordinat aktual SP yang telah diisi.
  8. Selanjutnya dilakukan kontrol kualitas lubang shot point untuk mengurangi resiko terjadinya misfire dan weakshot.
  9. Pembentangan kabel dan pemasangan geophone untuk kondisi permukaan yang kering dan hydrophone untuk kondiisi berair.
  10. Perekaman dengan melakukan penembakan shot point dan mengaktifkan reciver dengan jumlah channel yang aktif disesuaikan dengan hasil tes parameter yang dilakuakan. Sebelum penembakan dilakuakan, ada petugas yang bertugas untuk menghentian bising. Read more…

GEOLISTRIK

GEOLISTRIK


Metode Geolistrik

Penggunaan geolistrik pertama kali dilakukan oleh Conrad Schlumberger pada tahun 1912. Geolistrik merupakan salah satu metoda geofisika untuk mengetahui perubahan tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan cara mengalirkan arus listrik DC (‘Direct Current’) yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah. Injeksi arus listrik ini menggunakan 2 buah ‘Elektroda Arus’ A dan B yang ditancapkan ke dalam tanah dengan jarak tertentu. Semakin panjang jarak elektroda AB akan menyebabkan aliran arus listrik bisa menembus lapisan batuan lebih dalam.

Dengan adanya aliran arus listrik tersebut maka akan menimbulkan tegangan listrik di dalam tanah. Tegangan listrik yang terjadi di permukaan tanah diukur dengan  penggunakan multimeter yang terhubung melalui 2 buah ‘Elektroda Tegangan’ M dan N yang jaraknya lebih pendek dari pada jarak elektroda AB. Bila posisi jarak elektroda AB diubah menjadi lebih besar maka tegangan listrik yang terjadi pada elektroda MN ikut berubah sesuai dengan informasi jenis batuan yang ikut terinjeksi arus listrik pada kedalaman yang lebih besar.

Dengan asumsi bahwa kedalaman lapisan batuan yang bisa ditembus oleh arus listrik ini sama dengan separuh dari jarak AB yang biasa disebut AB/2 (bila digunakan arus listrik DC murni), maka diperkirakan pengaruh dari injeksi aliran arus listrik ini berbentuk setengah bola dengan jari-jari AB/2. Read more…