Advertisements

Archive

Posts Tagged ‘geologi’

PENGENALAN PEMETAAN GEOLOGI PERMUKAAN DENGAN METODE PENGUKURAN STRATIGRAFI TERUKUR DAN TERIKAT (ATAU SERING DISEBUT CHAINING)

PENGENALAN PEMETAAN GEOLOGI PERMUKAAN DENGAN METODE PENGUKURAN STRATIGRAFI TERUKUR DAN TERIKAT (ATAU SERING DISEBUT CHAINING)

Lembar peta geologi yang berada pada daerah yang permukaannya tersusun oleh batuan sedimen biasanya mengunakan satuan stratigrafi batuan dari unit litostratigrafi yaitu berupa bed, bed set, anggota, formasi, dan grup. Pengelompokan satuan batuan ini biasanya berdasarkan atas kesamaan ciri fisik dan jenis batuan. Ciri fisik dan jenis batuan yang dimaksud seperti perlapisan batupasir, perselingan batupasir dan batulempung, batugamping terumbu, batugamping berlapis, batupasir tuffaan, napal, breksi, konglomerat, batubara dan lain sebagainya. Penamaan dari unit litostratigrafi  ini biasanya didasarkan atas lokasi atau daerah ditemukannya atau atau kesamaan ciri fisik dan jenis batuan di daerah tertentu. Sering menjadi kendala dalam pengaplikasian pemetaan geologi dengan unit litostratigrafi adalah apabila jenis batuan dikaitkan dengan detail lingkungan pengendapan yang  mempunyai kemiripian jenis dan sifat fisik batuan. Seperti pada kasus batuan sedimen pada lingkungan fluvial – delta, pada lingkungan ini batulempung, batupasir, batubara yang terdapat pada fluvial, upper delta plain (UDP), lower delta front (LDP), delta front, bahkan pro-delta sampai slope. Sering pula pada peta geologi saat ini penamaan dan pengelompokan unit stratigrafi ini terbatas atas kapling atau batas pemetaan sehingga penamaan atas unit batuan yang sama secara fisik dan jenis batuannya bisa memiliki nama yang beda walaupun bersebelahan atau bahkan bertampalan pada batas lokasi pemetaan.

Karena hal-hal tersebut di atas, sering diaplikasikan pemetaan berbasis unit stratigrafi fasies lingkungan pengendapan. Pemetaan dengan unit stratigrafi ini sebenarnya juga berlandaskan dan didukung data dan analisis litostratigrafi, kronostratigrafi, biostratigrafi, dan sekuen stratigrafi. Sering pula dalam pelaksaanaan pekerjaan dan hasil stratigrafi dibuat kesebandingan antara unit stratigrafi tersebut, bahkan dengan mudah dapat pula dibuat peta geologi fasies lingkungan pengendapan, serta peta geologi litostratigrafi detail.

Metode chaining ini merupakan modifikasi atau kombinasi dari ilmu pemetaan geologi yang secara umum telah diajarkan saat dibangku perkuliahan. Tulisan ini disusun atas dasar pengalaman beberapa kali pemetaan geologi untuk memecahkan beberapa kasus eksplorasi, seperti dalam kasus permasalahan stratigrafi, apakah Eosen sudah di permukaan ataukah masih terpendam jauh di dalam?; Permasalahan struktur geologi, apakah terjadi rembesan hidrokarbon dari lead sub-thrust?; Permasalahan sistem perminyakan, bagaimana sebaran dan play sistem perminyakan berumur Paleogen pada lapangan yang di atasnya sudah produksi hidrokarbon Sistem Perminyakan Neogen?; serta kasus lainya seperti stratigrafi dan potensi sistem perminyakan batuan berumur pra-Tersier; Menjadi jembatan studi geologi dan geofisika selanjutnya, seperti mendapatkan informasi kedalaman distribusi batubara yang mengadsorb energi seismik, merekomendasikan fokus studi lokasi survey microseepage berdasarkan play sistem perminyakan yang digenerate dari proses pemetaan geologi.

SEKILAS TENTANG BEBERAPA TEKNIK PEMETAAN GEOLOGI

Teknik akuisis data dalam pemetaan geologi yang biasa dilakukan yaitu:

1. Spot mapping.

Metode spot mapping ini biasanya sering dipakai dan diajarkan di kampus-kampus. Lazimnya setiap geologis pernah mengaplikasikan teknik ini. Metode ini biasanya juga disertai dengan pengukuran penampang stratigrafi pada lokasi yang memiliki singkapan tersingkap baik. Pekerjaan spot mapping biasanya memiliki kaidah dan persyaratan tertentu mengenai kerapatan data, arah lintasan, luas daerah studi, dan scope of work (cakupan kerja), skala pemetaan.

2. Chaining atau pengukuran stratigrafi terukur dan terikat.

Pemetaan metode chaining atau pengukuran stratigrafi terukur dan terikat sepanjang jalur pemetaan dilakukan dengan membuat log litologi kontinyu sepanjang jalur pemetaan. Biasanya menggunakan skala pengamatan 1:1000. Inti pekerjaan ini merupakan kombinasi 3 pekerjaan utama, yaitu navigasi dan pengukuran lintasan, pengamatan dan pencatatan kondisi geologi secara detail, pengambilan contoh batuan dan rembesan hidrokarbon.

Diagram Alir Pekerjaan Pemetaan Geologi Chaning Untuk Studi Lingkungan Pengendapan dan Sistem Perminyakan

Gambar Diagram Alir Pekerjaan Pemetaan Geologi Chaining Untuk Studi Lingkungan Pengendapan dan Sistem Perminyakan (Jikalau gambar tidak jelas silahkan diklik pada bagian gambar dan di zoom)

3. Kombinasi.

Kegiatan pemetaan geologi chaning memiliki nilai akurasi dan ketelitian lebih baik baik dalam akuisi data dan pengolahan. Untuk lebih mebdapatkan hasil lebih baik dan optimal atas pertimbangan teknis dan biaya biasanya dilakukan kombinasi metode pemetaan chaining dan spot mapping.

PELAKSANAAN PEMETAAN DAN CHAINING YANG BIASA DILAKUKAN

Metode chaning saya kenal dan sering saya gunakan saat kerja di GDA Consulting, Beberapa objektif atau aspek geologi dan non teknis yang bisa didapat dari kegitan pemetaan geologi dengan metode chaining adalah

1. Detail stratigrafi dan sedimentologi serta sebaran litologi daerah telitian

2. Detail struktur geologi, form line map dan rekonstruksi palinspatik

3. Potensi komponen sistem perminyakan (Batuan Induk, Reservoir, Seal, dan Trap). Biasanya dibuat peta kekayaan dan kematangan batuan induk, peta distribusi reservoir, peta distribusi batuan penutup.

4. Geomorfologi, dipetakan bentuk lahan dan bentang alam.

5. Tata guna lahan, dalam proses akuisisi data selain aspek teknis tim juga memetakan tata guna lahan. Didapatkan informasi batas wilayah cagar alam dan hutan lindung, batas wilayah dari perkebunan dan informasi pemilik, perkembangan pembukaan lahan hutan oleh proses penambangan ataupun perkebunan, lokasi permukiman, bahkan dilakukan pencatatan habitat hewan atau tumbuhan dilindungi ataupun hewan buas.

6. Rembesan hidrokarbon dan air formasi.

7. Penyelidikan kebocoran lead melalui struktur sesar yang sampai ke permukaaan.

8. Sebaran mud volcano dan intrusi lumpur (mud volcano) ke litologi lebih muda.

9. Peleogeografi diberbagai umur dengan data stratigrafi, struktur geologi paleocurrent, provenan.

10. Model pengisian cekungan dari kolom stratigrafi gabungan yang terukur, terikat, terkoreksi oleh struktur geologi, analisis biostratigrafi, serta sejarah pembeban.

11. Pengikatan data geologi sepanjang lintasan survei dengan data geologi dan geofisika seperti data sumur, seismik, titik survey magnetotulerik, microseepage, gravity, geolistrik. Sumur migas biasanya digunakan untuk panduan korelasi dan kalibrasi ketebalan.  Adanya seismik membantu dalam penelurusuran dan integrasi data batuan dipermukaan dan dibawah permukaan serta struktur geologi. Dengan integrasi data geologi permukaan dan bawah permukaan dapat dibuat penampang 2D dan 3D play sistem perminyakan. Diikutinya pemetaan geologi dengan survey microseepage akan membantu mendeleniasi keterdapatan lead geokimia dari indikasi keterdapatan hidrokarbon secara langsung di area terdapatnya anomali microseepage yang sinyalnya berasal dari reservoir dibawah permukaan kemudian merebes ke permukaan dan ditangkap dengan model dengan konsentrasi ng ppt (nanno gram part per trilyun).

 

Gambar Diagram Alir Pekerjaan Pemetaan Geologi Chaining dan Survey Microseepage (Jikalau gambar tidak jelas silahkan diklik pada bagian gambar dan di zoom).

 

12. Penambahan/integrasi data litologi cutting yang diambil dengan waktu akuisis data yang bersamaan dengan pengeboran seismik.

13. Pemetaan akses jalan, keterdapatan sinyal dan modulasi radio serta fasilitas kesehatan dan fasilitas penting lainnya (pasar, masjid, atm, polisi, militer, sekolah, hotel, jembatan, dan lain sebagainya) yang akan berguna saat kegiatan eksplorasi lanjut.

14. Kuantifikasi stratigrafi seperti ketebalan unit batuan. Sehingga sangat membantu dalam perencanaan sumur seperti dalam pembuatan prognosis sumur yang direncakan dibor.

Berikut adalah beberapa hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam proses desain survei dan akuisisi data saat pekerjaan chaining:

a. Target objek geologi dan sistem perminyakan; seperti dijelaskan di atas.

b. Skala pengamatan; seperti dijelaskan di bawah.

c. Akses dan panjang lintasan; Jenis akses pemetaan geologi yang utama bisanya road cut, sungai, area tambang. Lintasan umurnnya memotong atau relatif tegak lurus jurus ataupun struktur yang akan distudi.

d. Lama waktu penelitian dan siklus on-off; lama waktu akuisisi data lapangan biasanya berkisar  satu sampai dua bulan. didalam waktu tersebut biasanya ada kalanya geologis akuisis data lapangan dan ada kala perapian database serta istirahat.

e. Organisasi dan jumlah anggota tim.  Tim lapangan tersusun atas tim rintis, tim geologis, tim radio, tim HSSE, dan tim logistik.

f. Peralatan dan perlengkapan; Peralatan lapangan yang digunakan standar seperti pemetaan geologi selazimnya, akan tetapi ditambahi dengan alat navigasi, alat ukur elevasi dan azimuth, serta meteran 50m.

g. Logistik dan camp; Camp biasanya tersusun atas camp utama (basecamp) dan flaying camp untuk lintasan yang tidak memungkinkan Pulang Pergi dalam satu hari.

h. Komunikasi dan pelaporan; Biasanya setiap tim dibekali dengan radio HT yang tersambung ke repeater, telephon satelit dan handphone. Geologist melaporkan pergerakan dan progres pekerjaan kepada radioman dan koordinator lapangan minimum 3 kali sehari.

i. Manajemen resiko dan rencana tanggap darurat.

TINGKAT AKURASI DAN KONTROL KUALITAS DATA

Dengan luas pemetaan geologi ratusan sampai puluhan ribu kilometer persegi (100 sd 10000 km2) yang pernah dilakukan. Beberapa skala yang dapat mengambarkan tingkat akurasi pencatatan dan pengolahan data yaitu:

  1. Kolom stratigrafi chaning dipakai skala 1:1000 sd 1:4000
  2. Kolom stratigrafi singkapan kunci skala 1:10 sd 1:100
  3. Kolom stratigrafi komposit digunakan skala 1:4000 sd 1:25000
  4. Peta lintasan, peta geologi, geomorfologi digunakan skala 1:25000 sd 1:125000

Kontrol kualitas yang dilakukan meliputi:

  1. Sebelum ke lapangan setiap geologis dibekali ilmu geologi dan HSE yang mumpuni, serta dilakukan standarasi dalam perekaman data.
  2. Kontrol kualitas data dan interpretasi data geologi dilakukan oleh ekspertise yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan regional yang baik.
  3. Kegiatan survey geologi permukaan selalu coba dikalibrasikan data geologi dan geofisika bawah permukaan yang ada
  4. Kontrol analisis sampel di laboratorium dilakukan oleh biostratigrafer berpengalaman, dan secara berkala dilakukan diskusi hasil analisis dari analis dan geologis yang ke lapangan.
  5. Kontrol non teknis seperti aspek kesehatan dicek tiap hari oleh tim medis sebelum safety breafing, kontrol armada dan kapal dicek oleh pengawas HSSE secara berkala.

Sekilas mengenai pengenalan pemetaan geologi dengan metode chaining disampaikan seperti tulisan di atas. Untuk detail kegiatan, teknik pengolahan dan integrasi data, pemakaian rumus dan aplikasi kalibrasi kolom stratigrafi, standar detail deskripsi singkapan, sintesa sistem perminyakan, serta dasar teori belum dapat disampaikan dalam tulisan ini. Kegiatan lanjutan dari pemetaan geologi serta integrasi data guna pemecahan masalah geologi dan sistem perminyakan spesifik akan diulas pada tulisan selanjutnya.

Advertisements

Pemilihan Lokasi Rumah Tinggal Dengan Memanfaatkan Google Earth dan Data GIS Sebagai Bahan Pertimbangan

Pemilihan Lokasi Rumah Tinggal Dengan Memanfaatkan Google Earth dan Data GIS Sebagai Bahan Pertimbangan

Pemetaan lokasi perumahan-perumahan, fasilitas umum dan akses transportasi (seperti pasar, pintu tol, stasiun, terminal) di daerah Bekasi yang pernah saya petakan disaat keluarga saya mencari rumah tinggal di Bekasi akan menjadi mubadzir jika tidak di-share, baik cerita dan file google earth. Pekerjaan ini dicoba dikembangkan pada tahap awal dengan platform google earth, pada pertengahan bulan Februari 2017. Tujuan membuat projek ini adalah untuk dapat di gunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan lokasi rumah tinggal yang terbaik bagi keluarga, yang tentunya pekerjaan ini perlu diikuti dengan proses analisis dan sintesa, baik analisis yang sifatnya sederhana dan analisis lanjut yang dikolaborasi dengan data berbasis GIS lainnya yang diolah dengan perangkat lunak GIS lainnya (seperti map info, global mapper, arc gis, dll), serta dapat dikaitkan dengan berbagai macam aspek dan pendekatan ilmiah (geologi, tata lingkungan, kebencanaan, investasi, dan lain sebagainya).

Gambar Google Earth Plot Lokasi Perumahan dan Fasilitas Penting di Bekasi

Gambar Google Earth Plot Lokasi Perumahan dan Fasilitas Penting di Bekasi.

 

Google Earth Perumahan di Bekasi Timur dan Tambun Selatan

Gambar Google Earth Di Zoom di Bekasi Timur dan Tambun Selatan Serta Plot Lokasi Perumahan dan Titik-Titik Penting.

 

Dengan file atau projek google earth ini saya dapat melakukan beberapa hal:

1. Untuk survey; kami dari awal dapat menentukan rute survey dari satu perumahan ke perumahan lainnya dengan mempertimbangkan jalur terbaik (tidak banyak kemacetan, rute yang banyak melalui perumahan dan fasilitas perumahan)

2. Analisis kemacetan; kita dapat membuat simulasi dan perhitungan waktu tempuh dari satu titik (semisal tempat kerja, stasiun, terminal, dll) dengan posisi rumah yang akan menjadi calon rumah tinggal.

3. Analisis lingkungan dan geologi; kita dapat melihat posisi perumahan dengan posisi sungai dan daerah aliran sungai, posisi terhadap meandering sungai, daerah rendahan atau tinggian, adanya sesar dan gerakan tanah, vegetasi, lokasi kuburan, dan aspek lainnya yang dianggap penting. Dengan analisis lebih lanjut dapat aspek geologi dan lingkungan dapat lebih detail kita ketahui dengan mengkolaborasikan data dengan peta kerawanan bencana banjir, bencana gerakan tanah, penurunan muka tanah, muka air tanah, peta geologi untuk mengetahui jenis litologi dan struktur geologi, Peta RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), dan lain sebagainya. Bahkan lebih advance lagi kita dapat pula mencoba melakukan analisis dan simulasi aliran air dan permukaan air (digenangi ataupun dikeringkan) yang mengikuti topografi dan geomorfologi.

Berikut saya tuliskan link yang berisi file kmz google earth dengan titik dan rute penting  terkait pemilian rumah tinggal di sekitar Bekasi yang pernah saya input ke google earth (link download: https://drive.google.com/file/d/0B5o3ODGwlSrIeWVUbUg3OVpWWDA/view?usp=sharing).

Untuk membuka file tersebut diatas perlu diunduh dan diinstal aplikasi google earth di komputer atau telephone gengam anda. yaitu:

Link aplikasi google earth untuk PC/Laptop: https://www.google.com/earth/

Link aplikasi google earth untuk android: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.google.earth&hl=en

Selain tertulis di atas apabila pembaca memiliki referensi dan pengalamana lain tentang penggunaan GIS dan strategi pemilihan rumah tinggal, saya sangat senang jika mendapatkan masukan dan diskusi. Jikalau pembaca sedang dalam proses memilih rumah tinggal silahkan jika ingin mengajak diskusi dan saling memberi saran. Pada bagian selanjutnya akan diposting tulisan analisis lanjut menggunakan data-data berbasis GIS guna bahan pertimbangan dalam pemilihan rumah tinggal.

Sekian tulisan ini dibuat. Semoga Bermanfaat. Mari Mengenal Geologi dan Bumi lebih dekat.

SEKILAS METODE PENYELIDIKAN GEOLOGI DAN GEOFISIKA KARAKTERISTIK RESERVOIR BATUAN DASAR

SEKILAS METODE PENYELIDIKAN GEOLOGI DAN GEOFISIKA KARAKTERISTIK RESERVOIR BATUAN DASAR

Penyelidikan karakteristik pada reservoir batuan dasar ini terdiri dari penyelidikan langsung dan penyelidikan tidak langsung. Penyelidikan langsung diantaranya adalah berupa pengamatan singkapan dipermukaan, penyelidikan cutting pemboran mud log dan inti pemboran. Secara visual geometri rekahan ataupun pelapukan dan pelarutan dapat teramati dari inti pemboran. Selain itu dari inti pemboran juga dapat diketahui sifat mekanika batuan dengan melalui proses tes di laboratorium.

Penyelidikan tidak langsung adalah pengamatan dengan mengunakan metode-metode geofisika, yaitu

A. Penyelidikan Conventional Log

Penyelidikan conventional log adalah dengan mengunakan log Gamma Ray (GR), Spontaneous Potential (SP), Resistivitas, Neutron, Densitas, dan Sonik.

Log Gamma Ray (GR) adalah metoda untuk mengukur radiasi sinar gamma yang dihasilkan oleh unsur-unsur radioaktif yang terdapat di dalam batuan di sepanjang lubang bor. Unsur radioaktif yang terdapat dalam lapisan batuan tersebut diantaranya Uranium, Thorium, Potassium, Radium (Harsono, 1997).

Menurut Harsono (1997) log SP (Spontaneous Potential) merupakan hasil dari pengukuran beda potensial arus searah antara elektroda di dalam lubang bor dengan elektroda di permukaan.

Log neutron merupakan log yang berfungsi untuk menentukan besarnya porositas suatu batuan (Harsono, 1997). Log ini tidak mengukur porositas sesungguhnya dari batuan, melainkan yang diukur adalah keterdapatan hidrogen dalam pori-pori batuan.

Tabel 1. Kegunaan Utama Open-hole Wireline Logs (Rider, 2002)

Tabel 1. Kegunaan Utama Open-hole Wireline Logs (Rider, 2002)

Read more…

PENGANTAR PETROLOGI, JENIS REKAHAN, DAN PELAPUKAN BATUAN RESERVOIR GRANITIK

PENGANTAR PETROLOGI, JENIS REKAHAN, DAN PELAPUKAN BATUAN RESERVOIR GRANITIK

Salah satu jenis batuan yang menjadi batuan dasar yang berpotensi sebagai reservoir di dearah penelitian adalah granit. Pada bagian ini akan diberikan uraian mengenai pengantar petrologi dari granit, beberapa kemumgkinan genesa atau asal muasal terbentuknya porositas dan permeabilitas batuan granit karena adanya rekahan dan pelapukan. Selain itu uraian proses sedimentasi jarak dekat disekitar tinggian, yang masih mencerminkan batuan granit sebagai granit wash juga tercantum pada bagian ini.

Tulisan ini diharapkan sedikit banyak dapat memberikan pemahaman/dasar teori kepada pembaca mengenai gambaran/analogi kondisi reservoir di bawah permukaan dan singkapan batuan granit yang ada dipermukaan, untuk itu perlu juga dibaca tentang model migrasi dan akumulasi batuan dasar pada tulisan sebelumnya pada kategori “Basement Reservoir” (link: https://ptbudie.com/2014/04/01/migrasi-dan-akumulasi-hidrokarbon-dari-batuan-induk-menuju-batuan-dasar-yang-terekahkan/)

A. Pengantar Petrologi Batuan Granit

Menurut Graha (1987) granit diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan atas tekstur utamanya yaitu granit faneritik dan afanitik.

Granit Faneritik

Granit kelompok ini terdiri dari batuan pluton yang biasa disebut dengan batolit. Granit ini berbutir sangat kasar dengan kombinasi warna antara putih sampai abu-abu. Bertekstur holokristalin, hipidiomorpik, dan equigranular. Fenokris yang besar dari ortoklas, kadang-kadang batuan ini ada yang bertekstur porpiri. Dalam jumlah yang sangat kecil kita akan mendapatkan xenolit didalam tubuh granit. Struktur yang biasa terdapat pada batu granit adalah struktur kekar. Read more…

BATUAN DASAR CEKUNGAN TERSIER SUMATRA SELATAN

BATUAN DASAR CEKUNGAN TERSIER SUMATRA SELATAN

Batuan dasar di Sumatra Selatan telah terbukti menjadi reservoir hidrokarbon, seperti pada lapangan Suban, dan sewajarnya juga ditemui pada daerah lainnya. Sebelum dibahas lebih lanjut mengenai potensi hidrokarbon dari batuan dasar ini, alangkah baiknya kita kenali lebih dahulu konfigurasi  batuan dasar ataupun batuan pra-Tersier yang ada di Sumatra pada umumnya dan Sumatra Selatan khususnya yang pernah diteliti oleh penulis pada tahun 2010-2011 pada salah satu lapangan di Jambi.

Menurut Salim dkk (1995) sejarah geologi tentang batuan pre-Tersier adalah tidak terlalu dikenali. Deskripsi kejadian pre-Tersier adalah berdasarakan pada penggalan data dari singkapan di Jajaran Pegunungan Barisan, Gunung Tiga Puluh, dan Gunung Dua Belas dan di kepulauan di timur Sumatra seperti Pulau Bangka, Belitung, Singkep dan juga dari data sumur. Bervariasi pada komposisi, bagian pre-Tersier terusun atas granit, kuarsit, batugamping, serpih, meta-sedimen, filit, sekis, andesit, dan basalt. Umur sekuen litologi pre-Tersier berkisar antara Paleozoik akhir sampai Mesozoik Akhir.

Gambar 1. Sebaran Jenis Batuan Dasar di Cekungan Sumatra Selatan (Ginger dan Fielding, 2005)

Gambar 1. Sebaran Jenis Batuan Dasar di Cekungan Sumatra Selatan (Ginger dan Fielding, 2005)

Read more…

POSISI STRATIGRAFI DAN ANALOGI SEDIMENTASI: BATUBARA DAN BATUPASIR SILIKA TUFFAN YANG DITEMUKAN DI PERBUKITAN NGALAU

POSISI STRATIGRAFI DAN ANALOGI SEDIMENTASI: BATUBARA DAN BATUPASIR SILIKA TUFFAN YANG DITEMUKAN DI PERBUKITAN NGALAU

Berdasarkan data peneliti terdahulu, litostratigrafi dan tektonostratigrafi batuan Tersier di Cekungan Ombilin dan  Cekungan Sumatra Selatan  telah dapat dijelaskan dan diketahui hubungannnya berdasarkan  ciri litologi serta didukung data hasil penelitian terdahulu. Akan tetapi dari salah satu stasiun pengamatan geologi pada saat program ekskursi geologi regional S2, ditemukan keberadaan batubara yang kontak dengan batupasir silica tuffan, yang hadir disekitar batugamping mesozoik di Perbukitan Ngalau, lokasi penambangan Indarung PT. Semen Padang. Dijadikan bahan diskusi pada tulisan ini karena belum dijelaskan posisi stratigrafi dan proses sedimentasi.

Batubara dan Batupasir Silika Tuffan di Perbukitan Ngalau

Gambar 1. Batubara dan Batupasir Silika Tuffan di Perbukitan Ngalau

Menurut Yancey dan Alif (1977) lokasi ini tersusun atas Formasi Indarung yang terdiri dari Batugamping, Batugamping metasomastis, batupasir, serpih, rijang, dan konglomerat. Anggota Ngalau terdiri atas perlapisan batupasir dan serpih, batugamping, rijang, dan batuan volkanik (Gambar 2). Dalam penelitian terdahulu, keberadaan batubara (Gambar 1) belum diteliti dan terpetakan menjadi bagian Anggota Ngalau atau Formasi Indarung. Sehingga posisi stratigrafinya belum ditentukan. Read more…

DESKRIPSI BATUAN BEKU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Batuan beku dapat dipisahkan menjadi batuan beku non fragmental dan batuan fragmental. Pada umumnya batuan beku non fragmental berupa batuan beku intrusif ataupun aliran lava yang tersususn atas kristal-kristal mineral. batuan beku fragmental juga dikenal dengan batuan piroklastik (pyro=api, clastics= butiran/pecah) yang merupakan bagian dari batuan volkanik.  Sebagai catatan, pada tulisan ini akan lebih menekankan pembahasana pada batuan beku non fragmental. Secara umum yang utama  harus diperhatikan dalam deskripsi batuan adalah:

  1. Warna Batuan
  2. Struktur Batuan
  3. Tekstur Batuan
  4. Bentuk Batuan
  5. Komposisi Mineral Batuan

1. Warna Batuan

Menurut Subroto (1984), yang diperhatikan pertama kali dalam deskripsi batauan beku adalah warna. Warna dari sampel batuanbeku dapat menentukan komposisi kimia batuan tersebut. Ada empat kelompok warna dalam batuan beku: Read more…